Translator

English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

24 Oktober 2013

KEGELISAHAN SETELAH INDONESIA SETARAKAN KEKUATAN MILITERNYA


Bila persaingan senjata itu akhirnya nampak begitu nyata.....
Maka moncong senapan dan senjata pembunuh massal lainnya telah mengarah ke dada kita, mereka dan anda juga. Kalian yang memulai maka kami dan mereka hanyalah mengimbangi dengan tak kalah semangatnya dalam mengisi arsenal dan perbarui alutsista.
Pengamat politik dan militer CSIS pernah menilai dan berkomentar menekan ketika terjadi tindakan Australia yang meningkatkan anggaran pertahanannya dengan membeli peluru kendali (rudal) jelajah jarak jauh. Mudah terbaca efeknya yakni dapat memicu perlombaan senjata di kawasan Asia sebagai upaya saling mengimbangi peta kekuatan dan muatan militer negara sekitar .
Pengamat Center for Strategic and International Studies (CSIS) J Kristiadi pernah mengemukakan hal itu ketika menanggapi sikap Australia yang membeli peralatan perang dari Amerika Serikat (AS) beberapa tahun lalu. Menurut Kristiadi kala itu, Australia sebagai negara yang bertetangga dengan Asia perlu mengimbangi kebijakan pertahanannya dengan melakukan kegiatan diplomasi yang menjelaskan secara transparan latar belakang rencana peningkatan anggaran petahanan dan penambahan mencolok pesawat tempur (belakangan diketahui ambisi australia untuk mengakuisisi F-35 hingga F-22 Raptor meski yang terkahir ini tak akan dijual oleh pihak AS) dan  rudal-rudalnya.

 

 


"Jika tidak maka negara-negara tetangganya di Asia, juga Indonesia dan ASEAN akan menanggapinya sebagai suatu bentuk ancaman. Akhirnya negara-negara lain juga melakukan pembelian peralatan perang lainnya untuk mengimbangi upaya Australia " . 



Kekhawatiran yang mudah dicerna, kalau tidak ada penjelasan resmi kepada negara tetangganya, maka Australia sengaja memicu ketegangan baru di kawasan Asia pasifik dengan perlombaan senjata. Dan semua terbukti juga bisa merasakan akibatnya saat ini, persaingan dan penambahan muatan mematikan di sejumlah arsenal negara-negara sekitar asia yang dikenal naif dalam penambahan alutsista.
Menyinggung soal hak Australia untuk melindungi negaranya dari ancaman dan serangan "Utara", Para Pengamat menilai, terlepas dari hal tersebut perlu ada penjelasan kepada negara tetangganya. Kita ingat saat negara Indonesia diam-diam mengakuisisi sejumlah alutsista kelas berat Rusia, yang membuat kaget Jepang, AS, hingga mengundang kepanikan kawasan regional Asean dan mengundang kontroversial para petinggi militer Australia sendiri. Mereka seperti menyadari efek domino kekuatan tak terduga Asia tenggara jika terusik dari tentramnya.

" Dengan melakukan diplomasi, maka akan terbangun rasa percaya antar negara dan tidak lagi saling curiga " .

Dari hal semacam inilah yang membijaki para petinggi negeri RI perlu menyerukan negara-negara ASEAN untuk meningkatkan dialog agar tidak terbangun rasa curiga yang berkepanjangan. Dalam agenda pembicaraan rutin di lingkungan Angkatan Darat negara-negara anggota ASEAN seringkali dibahas seputar rencana pembelian sejumlah misil (rudal) udara ke darat Australia serta penambahan kekuatan militer asing berupa pangkalan dan personel militer yang merubah iklim keseimbangan kekuatan kawasan. Kita sepakat, perlombaan senjata bukan jaminan terciptanya perdamaian. Untuk bisa mencegah kesalahpahaman dalam kerangka negara bertetangga, diperlukan upaya dialog antara Indonesia dan Australia sebagai negara bertetangga untuk menimbulkan satu kesepahaman dan kesepakatan visi regional Australia dan Asean. Dari dialog itu pihak Australia mungkin dapat menjelaskan maksud pembelian misil tersebut meski tak menafikan hak-hak mereka untuk mengakuisisi setiap tekhnologi dan persenjataan termutakhir sekalipun. Sikap arif dalam berbangsa sungguh membuat negara Indonesia bijak dalam hal bertetangga dan menjaga hubungan politik internasional. Jauh beberapa tahun sebelumnya pemerintah RI melalui Mantan Panglima TNI, Jenderal Endiartono Sutarto, menilai misil yang dibeli Australia bukanlah ancaman bagi Indonesia bahkan sikap dewasa, tenang namun waspada para petinggi TNI telah matang dan nampak ketika lebih jauh sebelumnya Australia mengumumkan rencana negaranya untuk memperkuat pertahanan udara dengan mempersenjatai pesawat tempur F-18 A/E Hornet dan pesawat intai maritim P-03C Orion-nya dengan rudal udara ke darat jarak menengah yang mampu menjangkau jarak hingga 400 mil laut. Dengan jarak tempuh sejauh itu, logikanya jika misil itu ditembakkan dari udara Pulau Christmas yang berada sekitar 120 mil laut dari Cilacap, Jawa Tengah, maka kota Bandung atau Bogor atau malah pinggiran Jakarta bisa dijangkau dalam hitungan detik saja.








Target TNI di Minimum Essential Force (MEF) I untuk mengantisipasi konflik/sengketa wilayah dengan negara tetangga di utara, seperti Kasus Ambalat, bisa dikatakan berhasil. Berhasil dalam artian mengumpulkan senjata yang mematikan dan memiliki daya gentar yang tinggi. Untuk pertempuran di garis perbatasan maupun pertempuran anti-gerilya, keberadaan Apache AH-64E Guardian, Mi-35, MBT Leopard, serta pesawat tempur Super Tucano, akan menjadi mimpi buruk bagi lawan. Akan tetapi Apache AH-64E Guardian, Mi-35, MBT Leopard 2A4 serta Super Tucano menjadi tidak berarti, ketika ada negara lain yang melakukan serangan dengan pesawat tempur dan bomber. Keempat Alutsista itu tidak berdaya, ketika ada skadron pesawat musuh melakukan serangan kilat dan membom obyek vital di Indonesia.


Barangkali sedikit orang yang tahu jika Australia sempat berpikir untuk membom Jakarta dengan F-111 Aadvark, ketika pasukan Untaet yang hendak mendarat di Timor Timur pasca jejak pendapat 1999, hendak dihalangi militer Indonesia. Jika serangan itu terjadi, bombardir yang mereka lakukan terhadap obyek vital, besar kemungkinan akan mendapatkan hasil, meski beberapa fighter atau bomber mereka berhasil dirontokkan fighter Indonesia. Dalam program MEF I, TNI terus menambah radar untuk dapat memonitor seluruh wilayah udara Indonesia. Namun apalah artinya radar, jika tidak bisa menembak.

Lain halnya jika Indonesia telah memiliki sistem pertahanan anti-udara jarak jauh – menengah seperti S-300 family. Tidak akan mudah bagi pasukan asing untuk menerobos wilayah Indonesia dan Flanker family serta F-16 secara maksimal bisa menutup lubang yang masih ditinggalkan S-300.

Saat ini Indonesia hanya memiliki 1 skadron pesawat heavy fighter SU 27/30 untuk mengkover wilayah Indonesia yang demikian luas. Tentu hal itu tidak mencukupi. Rencana perkuatan dan penambahan terus berlangsung hingga peta kekuatan berimbang hingga superior segera terwujud.


Jangan pernah berpikir tidak akan ada perang, karena jika perang itu benar-benar datang, maka porak porandalah kita, karena salah mengambil asumsi. Inggris tidak pernah berpikir akan berperang dengan Argentina yang merupakan sahabat perdagangan mereka. Namun faktanya, perang itu mendatangi Inggris. Begitu pula dengan kasus ancaman Australia maupun provikasi yang dilakukan Malaysia di Ambalat. Sebelumnya, kita tidak pernah berpikir hal itu akan dilakukan tetangga kita.


Itulah mengapa Panglima TNI Jenderal Moeldoko, sempat mencetuskan  minatnya untuk membeli SU 35, untuk memperkuat Skadron SU-27/30 yang dimiliki Indonesia saat ini.


“Syukur kali ini pesawat tempur Sukhoi sudah satu skuadron. Diharapkan akan ada lagi pembelian jenis SU-35 karena lebih canggih. Semoga perekonomian bisa semakin membaik, sehingga negara bisa membeli alutsista sebagai penguatan NKRI ”.


Jika Sukhoi Su-35 jadi dibeli pada MEF II (2015-2019), kekuatan angkatan udara Indonesia, cukup gagah untuk meladeni pesawat tempur asing yang mencoba menyerang Indonesia.
Indonesia terlalu luas untuk sekedar memiliki satu skuadron heavy fighter SU-27/30. Apalagi pesawat-pesawat tempur negara di sekitar Indonesia akan terus semakin canggih. Australia dan Singapura sebentar lagi akan memiliki F-35. Malaysia sedang mempertimbangkan untuk membeli F/A 18 E/F Advance. Singapura juga memiliki F-15 Silent Eagle. Belum lagi pesawat-pesawat tempur stealth China seperti Chengdu J-20.

KENAPA NASIONALISME MENDADAK TERJAGA ??
Rentetan kejadian memilukan seperti pesawat TNI AU jatuh, dan provokasi jiran yang menimpa dan menghujam martabat bangsa indonesia hingga terjerumus ke titik nadir membuat sontak semangat kebangkitan pengadaan dan modernisasi kekuatan menjadi tak terbendung didalam negeri.
Jumat, 8 April 2005 jadi hari yang bersejarah bagi pola pandang pertahanan nasional khususnya pola pertahanan teritorial perairan Indonesia. Pasalnya ini pertama kali dalam sejarah orba-reformasi Indonesia mengalami konflik perbatasan yang berujung pada insiden saling serempet antara kapal perang TNI AL dan AL Malaysia TLDM (Tentara Laut Diraja Malaysia). KRI Tedong Naga 819, kapal patroli berbahan fiber glass buatan Dalam Negeri, terpaksa menyerempet KD Rencong sebanyak tiga kali di perairan Karang Unarang, Nunukan – Kalimantan Timur. Aksi KRI Tedong Naga bukan tanpa alasan, sebab KD Rencong sebelumnya berkali-kali melakukan manuver yang membahayakan pembangunan mercusuar di Karang Unarang.



Konflik batas wilayah dalam kasus blok Ambalat itu pun berlanjut dalam beberapa eskalasi, tercatat di bulan Februari 2007 terjadi dua kali aksi lintas batas secara sengaja oleh kapal perang Malaysia ke wilayah perairan RI. Pihak TNI AL sejak awal konflik Ambalat pun sudah mensiap siagakan Gugus Tempur Laut (Guspurla), satuan kapal perang yang terdiri dari KCR, korvet dan frigat yang selalu merespon cepat pada ‘provokasi’ TLDM. Dan patut diacungi jempol para prajurit TNI AL yang dalam suasana hati panas tapi tetap patuh pada SK Panglima TNI Nomor: Skep/158/IV/2005 tanggal 21 April 2005 yang menyatakan bahwa pada masa damai, unsur TNI AL di wilayah perbatasan RI-Malaysia harus bersikap kedepankan perdamaian dan TNI AL hanya diperbolehkan melepaskan tembakan bilamana setelah diawali adanya tembakan dari pihak Malaysia terlebih dahulu. Jauh sebelum hal itu terjadi berkali-kali Indonesia didera hal yang menyakitkan. Kita masih ingat tentang insiden Bawean ditengah embargo militer terkait HAM, pelecehan lambang-lambang negara diluar negeri tentu menjadi motivasi lebih meningkatkan rasa nasionalisme yang nyaris mati karena krisis politik dan ekonomi yang didalamnya terkait konspirasi asing dan pengkhianat bangsa




 

Tanggal 3 Juli 2003, kawasan udara di atas Pulau Bawean sontak memanas ketika teridentifikasi lima project asing yang kemudian diketahui sebagai pesawat F/A 18 Hornet terdeteksi radar TNI AU. Dari pantauan radar kelima Hornet terbang cukup lama, lebih dari satu jam dengan manuver sedang latihan tempur. Untuk sememntara Kosek II Hanudnas (Komando Sektor II Pertahanan Udara Nasional) dan Popunas (Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional) belum melakukan tindakan identifikasi dengan cara mengirimkan pesawat tempur karena kelima Hornet kemudian menghilang dari layar radar.

Sekitar dua jam kemudian, Radar Kosek II kembali menangkap manuver Hornet. Karena itu panglima Konanudnas menurunkan perintah untuk segera melakukan identifikasi. Apalagi manuver sejumlah Hornet itu sudah mengganggu penerbangan komersial yang akan menuju ke Surabaya dan Bali serta sama sekali tak ada komunikasi dengan ATC terdekat.

Dua pesawat tempur buru sergap F-16 TNI-AU yang masing-masing diawaki Kapten Pnb. Ian Fuadi/Kapten Fajar Adrianto dan Kapten Pnb. Tony Heryanto/Kapten Pnb. Satro Utomosegera disiapkan. Misi kedua F-16 itu sangat jelas yaitu melakukan identifikasi visual dan sebisa mungkin menghindari konfrontasi mengingat keselamatan penerbang merupakan yang utama. Selain itu, para penerbang diminta agar tidak mengunci (lock on) sasaran dengan radar atau rudal sehingga misi identifikasi tidak dianggap mengancam. Namun demikian, untuk menghadapi hal yang terduga kedua F-16 masing-masing dua rudal AIM-9 P4 dan 450 butir amunisi kanon kaliber 20 mm. Namun F-16 Indonesia tidak bisa berbuat banyak, kerena pesawat lawan memberikan gertakan yang lebih kuat. Kehadiran 24 pesawat F-16 block 25 eks US Air Guard, tidak cukup signifikan untuk meningkatkan kemampuan Angkatan Udara Indoesia. AS sendiri hanya menggunakan F-16 block 25 sebagai armada perang lapis kedua. Pasukan pemukul udara AS untuk fighter jenis F-16 berkualifikasi Block 40/42 ke atas.

Menjelang petang, Falcon Fligh F-16 melesat ke udara dan tak lama kemudian kehadiran mereka langsung disambut dua pesawat Hornet. Radar Falcon Fligh segera menangkap kehadiran dua Hornet yang terbang cepat dalam posisi siap tempur. Perang radar atau jamming antara kedua pihak pun berlangsung seru. Yang lebih menegangkan pada saat yang sama, F-16 yang berada pada posisi pertama telah dikunci, lock on oleh radar dan rudal Hornet. F-16 kedua yang terbang dalam posisi supporting Fighter juga dikejar oleh Hornet lainnya. Namun posisi F-16 kedua lebih menguntungkan. Jika memang harus terjadi dog fight ia bisa melancarkan bantuan.

Untuk menghindari sergapan rudal lawan seandainya memang benar-banar diluncurkan, F-16 pertama lalu melakukan manuver menghindar, yakni hard break berbelok tajam hampir 90 derajat ke arah kanan dan kiri serta melakukan gerakan zig-zag. Manuver tempur itu dilakukan secara bergantian baik oleh F-16 maupun Hornet yang terus ketat menempel. Melihat keadaan yang semakin memanas, F-16 kedua lalu mengambil inisiatif menggoyang sayap (rocking wing) sebagai tanda bahwa kedua pesawat F-16 TNI-AU tidak mempunyai maksud mengancam.

http://bpn16.files.wordpress.com/2010/09/f18-1.jpg


Sekitar satu menit kemudian, kedua F-16 berhasil berkomunikasi dengan kedua Hornet yang mencegat mereka. Dari komunikasi singkat itu akhirnya diketahui bahwa mereka mengklaim sedang terbang di wilayah perairan internasional.
 “We are F-18 Hornets from US Navy Fleet, our position on International Water, stay away from our warship”. 
F-16 pertama lalu menjelaskan bahwa mereka sedang melaksanakan patroli dan bertugas mengidentifikasi visual serta memberi tahu bahwa posisi F-18 berada di wilayah Indonesia. Mereka juga diminta mengontak ke ATC setempat, karena ATC terdekat Bali Control belum mengetahui status mereka.

Usai kontak Hornet AS itu terbang menjauh sedang kedua F-16 TNI-AU return to base, kembali ke pangkalannya Lanud Iswahjudi Madiun. Selain berhasil bertemu dengan Hornet, kedua F-16 TNI-AU juga melihat sebuah kapal perang Frigat yang sedang berlayar ke arah timur. Setelah kedua F-16 mendarat selamat di pangkalan TNI-AU menerima laporan dari MCC Rai (ATC Bali) bahwa fligh Hornet merupakan bagian dari armada US Navy. Namun yang paling penting dan merupakan tolak ukur suksesnya tugas F-16, Hornet AL AS itu baru saja mengontak MCC RAI dan melaporkan kegiatannya.
Keesokan harinya TNI-AU terus mengadakan pemantauan terhadap konvoi armada laut AS itu dengan mengirimkan pesawat intai B737. Hasil pengintaian dan pemotretan menunjukkan bahwa armada laut AS yang terdiri dari kapal induk USS Carl Vinson, dua frigat dan satu destroyer sedang berlayar diantara Pulau Madura dan Kangean menuju Selat Lombok. Selama operasi pengintaian itu pesawat surveillance B737 terus dibanyangi dua F/A 18 Hornet AL AS. Bahan-bahan yang didapat dari misi itu kemudian dipakai oleh pemerintah untuk melancarkan “keberatan” secara diplomatik terhadap pemerintah AS. Kisah intersepsi pesawat asing oleh pesawat TNI Angkatan Udara sudah beberapa kali terjadi. Tahun lalu, tepatnya 7 Maret 2011, sebuah pesawat milik Pakistan International Airlines disergap dua pesawat Sukhoi TNI AU. Pesawat jenis Boeing 737-300 itu kedapatan memasuki kawasan udara Indonesia secara ilegal.


Kedaulatan negara harus ditegakkan, NKRI adalah harga MATI. Coba bayangkan jika Indonesia tanpa kekuatan tempur dari keluarga Flanker ? Akan seperti apa bila F-16 block 25 Indonesia berhadapan dengan F-35 seperti yang segera dimiliki Australia dan Singapura ?
Tentu tak ada alasan bagi militer kita untuk menunda keberadaan SU-35 untuk mengimbangi kekuatan arsenal udara tetangga.

 



MODERNISASI ALUTSISTA MENJADI WAJIB HUKUMNYA !
Untuk mendapatkan air superiority, Indonesia membutuhkan setidaknya tambahan 3 skuadron Sukhoi, yang tentunya keberadaannya lebih powerfull dibandingkan Helikopter Apache maupun MBT Leopard. Sukhoi akan dapat bergerak cepat untuk menutup celah yang ada di udara Indonesia ataupun untuk mengusir pesawat yang menyusup. Jika radar Indonesia mendeteksi adanya serangan musuh, Indonesia tidak bisa menembaknya dengan Apache AH-64E ataupun MBT Leopard, melainkan dengan sistem pertahanan anti-udara atau pesawat tempur. Apache dan Leopard hanya dibutuhkan Indonesia ketika musuh telah mendarat ke tanah Indonesia. Hal itu hanya bisa terjadi jika air superiority dan sistem pertahanan udara Indonesia, telah dilumpuhkan musuh.


Contohnya, Pasukan multinasional yang dipimpin AS, hanya melakukan serangan darat ke Irak, setelah air superiority dan sistem pertahanan anti serangan udara dilumpuhkan terlebih dahulu. Sementara dalam kasus peperangan di Serbia, AS tidak berani melakukan serangan udara/ bombardir, karena satelit mata-matanya menangkap ada beberapa baterai S-300 yang digelar oleh Serbia. Padahal usai perang diketahui sebagian besar baterai itu hanyalah dummy alias palsu.


Pada MEF II, TNI harus bisa membuat Angkatan Udara berada pada level pasukan yang disegani lawan (having a respectable Air Force), yang bertujuan untuk membuat pihak asing berpikir puluhan kali jika hendak menganggu wilayah Indonesia.


Meskipun Indonesia merasa yakin tidak ada musuh potensial saat ini, namun mengamankan wilayah udara adalah sangat penting, karena dari situlah wibawa negeri Indonesia ditegakkan. Rudal pertahanan udara, UAV serta pesawat tempur modern dibutuhkan Indonesia, walau jumlahnya masih sedikit. Efek deteren itu antara lain dimunculkan oleh adanya pesawat tempur yang modern/ up to date, bukan pesawat lawas. Sudah waktunya Indonesia merogoh sakunya di MEF II, untuk kebutuhan tersebut. Tak ada yang harus dipedebatkan untuk segera mengakuisisi mainan militer super gahar sekaligus menggenjot produksi alutsista dalam negeri. Pagelaran kekuatan diperbatasan eskalasinya perlu ditingkatkan untuk menjadi dinding dan retorika militer bagi kekuatan yang mencoba menusuk serang.
Kenapa Indonesia begitu tertarik dengan logika pengadaan S-300 ?
Jika Indonesia memiliki sistem pertahanan udara S-300, maka alutsista ini akan secara efektif menghentikan kemampuan ofensif dari musuh dan tidak memberikan mereka air superiority.



S-300 jika  digabungkan dengan sistem anti-udara jarak pendek (meski sudah tua), akan memberikan perlindungan sangat kuat. S-300 tidak akan efektif untuk menangkal pesawat tempur atau rudal yang sudah terlalu dekat, serta terbang rendah di bawah 25 meter menelusuri relief bumi. Pesawat tempur atau rudal yang lolos ini, akan ditangani dengan baik oleh rudal/senjata anti udara jarak pendek, seperti gabungan starstreak dan Oerlikon Skyshield atau jenis lainnya, seperti Pantsir.


Gabungan S-300 dengan Pantsir atau rudal anti-udara jenis lainnya, akan menjadi duet maut, sangat sulit untuk ditembus. Untuk tidak tidak heran negeri yang memiliki ancaman militer tinggi, seperti Iran dan Suriah, mati-matian untuk mendapatkan S-300 family.
S-300V. Kode V yang berarti Voyska ditujukan untuk pasukan darat. Perlindungan udara untuk pasukan darat ini meliputi: anti rudal balistik, anti rudal jelajah serta pesawat tempur. S-300V diangkut oleh MT-T transporters (tracked) dengan amunisi rudal 9M83 “GLADIATOR” berdaya jangkau maksimum 75 km. Sementara 9M82 “GIANT” (SA-12B Giant) dapat mencapai target hingga 100 km dan mampu menyasar pesawat/rudal di ketinggian (altitude) 32 km (100,000 ft). S-300V lebih ditujukan untuk menangkis serangan Anti-Ballistic Missile.


S-300P merupakan versi orsinil dari sistem pertahanan udara S-300. Huruf P berarti PVO-Strany (Sistem pertahanann udara negara). Awalnya S-300P kesulitan untuk menjejak target di bawah 500 meter dari permukaan tanah. Namun Rusia terus mengembangkan sistem Track Via Missile-nya (TVM) sehingga kini mampu menjejak target di ketingian 25 meter.


S-300PT-1 dan S-300PT-1A (SA-10b/c) merupakan versi import maupun kebutuhan dalam negeri Rusia, hasil pengembangan dari sistem S300PT. Sistem rudal ini menggunakan rudal 5V55KD dengan jangkauan 75 km. Pada tahun 1985 diperkenalkan S-300PS/S-300PM dengan rudal baru 5V55SR dengan jangkauan 90km dan dilengkapi dengan terminal pemandu semi-active radar homing (SARH).


Tahun 1992 diperkenalkan S-300PMU untuk versi eksport dengan feature upgrade rudal 5V55U yang bisa menjejak obyek yang lebih kecil serta memiliki jangkauan hinga 150km.


Jenis peluncur maupun jenis rudal terus berkembang. Ukuran dan hulu ledak yang lebih kecil namun memilki jangkauan yang lebih jauh. S-300PMU-2 misalnya dengan mengusung rudal rudal 48N6E2 mampu menggasak sasaran hingga jarak 195km. Sementara rudal 9M96E2 mampu menggasak sasaran yang sangat dekat hingga jauh, yakni dari jarak 1 hingga 120 km.
Adapun S-300F yang berarti Flot (fleet) diperkenalkan tahun 1984 untuk pertahanan anti-udara kapal perang yang mengacu pada Sistem S-300P. Dilengkapi rudal baru 5V55RM, jangkauan sistem S-300F bertambah menjadi 7-90 km dengan kecepatan 4 mach dan mampu menghajar target di ketinggian 25 -25.000 meter (100-82,000 ft). S-300FM adalah versi yang lebih baru dan diperkenalkan pada tahun 1990. Kecepatan rudal meningkat pesat menjadi 6 hingga 8,5 Mach dengan hulu ledak 150 kg dan mampu menyasar target 5–150 km (3–93 mi) di altitude 10m-27 km (33–88500 ft). Setelah dilengkapi dengan ultimate track-via-missile guidance method, rudal ini dapat menyergap short-range ballistic missiles.
S-300 bisa dilumpuhkan, namun membutuhkan usaha yang besar. Membutuhkan kordinasi yang tinggi, teknologi jamming- decoy, taktik dan skill. Sistem pertahanan S-300 memiliki keterbatasan persediaan rudal yang akan ditembakkan. 
NATO pada tahun 2011 mengujicoba SEAD fighter mereka (Supression of Enemy Air Defenses) dengan Early Warning Aircraft terhadap sebuah sistem pertahanan udara S-300 Slovakia. Usai ujicoba hanya pesawat Rafale yang mampu keluar dari latihan itu tanpa tertembak. Pesawat lain rontok disikat S-300. Untuk itulah mengapa NATO dan Israel sangat resah dengan Suriah yang diduga telah diperkuat oleh Rusia dengan S-300. Rusia terus memodernisasi sistem pertahanan udara Suriah.
Missile S-300PMU-2 merupakan tantangan berat bagi seluruh pesawat tempur generasi 4 atau 4++ dalam jarak 150 km. Kecepatan dari rudal 48N6E2 S-300PMU-2 sekitar 3 km/ detik atau 6 hingga 8 kecepatan suara/ Mach. Bayangkan saja anda seorang pilot F-16 yang terbang dengan kecepatan 1,8 Mach dihampiri oleh rudal kecepatan 6 Mach.

Jika negara kita memiliki dua baterai S-300PMU-2 dengan rudal 48N62E yang setiap baterainya dilengkapi 8 hingga 12 launcher S-300PMU-2. Masing-masing unit S-300PMU-2 dilengkapi 4 rudal siap tembak. Artinya ada 16 hingga 24 S-300PMU-2 dikalikan (x) 4 rudal, yakni 64 hingga 96 rudal ditembakkan dalam waktu 10 menit. Harga 64 hingga 96 rudal itu sekitar 10 hingga 20 miliar dollar. Kira-kira bagaimana perasaan atau nyali pihak asing yang hendak mencoba-coba atau mengganggu wilayah udara Indonesia?

Bila terjadi agresi militer, bandar udara (bandara) menjadi salah satu obyek utama yang wajib dilumpuhkan oleh musuh, atau akan lebih bagus jika bisa diduduki, maklum keberadaan bandara dapat dimanfaatkan sebagai basis tumpuan untuk operasi tempur lanjutan. Karena keberadaan bandara yang amat penting, tak heran bila bandara masuk dalam ketegori obyek vital yang mendapat porsi perlindungan ekstra, selain instalasi militer dan istana negara.

Bicara soal bandara yang mendapat perlindungan ekstra, di Indonesia tentu akan merujuk pada bandara Soekarno Hatta (Soetta) yang berlokasi di Tangerang – Banten. Mengemban peran sebagai gerbang keluar masuk ke jantung Ibu Kota, bandara Soetta mendapat perlindungan penuh dari beragam alutsista, seperti rudal Grom dengan platform Poprad, kanon 23mm/ZUR komposit rudal Grom, rudal Starstreak, dan kanon Type 80 Giant Bow kaliber 23mm. Sementara dari jumlah satuan, guna melindungi Ibu kota keseluruhan, melibatkan kekuatan Detasemen Rudal 003, Yon Arhanudri 1 Kostrad, Yon Arhanudse 6, dan Yon Arhanudse 10. Dalam pertahanan udara titik, tentu tidak hanya menyandarkan pada jenis kanon dan rudal, tapi melibatkan meriam PSU (penangkis serangan udara), seperti meriam lawas tipe S-60.

Kanon penangkis serangan udara dengan dua laras ini diproduksi oleh Norinco, Cina. Seperti sudah jadi kebiasaan, kanon ini pun merupakan jiplakan dari produk serupa asal negara lain. Type 80 merupakan copy-an dari kanon ZU-23-2 produksi Rusia. Giant Bow atau disebut juga Shengong dapat dikendalikan secara manual atau otomatis dengan integrasi sistem.




Memiliki kecepatan luncur proyektil mencapai 970 meter per detik. Sementara untuk jarak tembak, untuk sudut vertikal maksimum 1.500 meter, dan sudut horizontal maksimum 2.000 meter. Tapi, bila bicara jarak tembak mendatar maksimum bisa hingga 2.500 meter. Untuk merontokkan pesawat yang terbang rendah sudah barang tentu perlu kecepatan tembak yang spektakuler, secara teori disini 1.500 – 2.000 proyektil dapat dimuntahkan dalam 1 menit. Sedangkan untuk kecepatan tembak praktis 400 proyektil per menit. Jenis amunisi yang biasa digunakan adalah HEI-T dan API-T.

Kanon yang diproduksi tahun 2000 ini punya bobot 1.250kg, dalam gelar operasinya biasa ditarik dengan truk Unimog. Kanon yang diawaki 5 orang personel ini dapat digelar dalam tempo kurang dari 5 menit. Ada dua kursi operator pada kanon ini, dan dalam skema operasi mandiri, dapat pula ditangani oleh satu juru tembak. Peran awak lainnya diperlukan untuk loading amunisi (magasin) dan penggantian laras. Giant Bow dapat digerakan secara kinetik/manual (dengan putaran engkol), atau dapat pula dioperasikan secara elektrik lewat joystick. Buat awak senjata, tentunya lebih nyaman mengendalikan secara elektrik.

Seperti halnya kanon PSU pada umumnya, Giant Bow memiliki sudut putar 360 derajat. Sedangkan sudut elevasi laras dengan sistem manual yakni -5 sampai 90 derajat, dan elevasi laras dengan sistem elektrik mulai dari -3 sampai 90 derajat.
Kanon Giant Bow saat ini menjadi etalase sista di Yon Arhanudri 1 Kostrad, yang bermarkas di bilangan Serpong, Tangerang – Banten. Selain punya tanggungjawab menjadi perisai bandara Soetta, batalyon ini juga punya tugas untuk mengamankan Pusat Penelitian Ilmu dan Teknologi (Puspitek) di Serpong, Tangerang – Banten. Yon Arhanudri 1 memiliki 2 baterai kanon Giant Bow, dengan jumlah total ada 18 pucuk yang siap digunakan. Sebenarnya masih ada 1 pucuk lagi yang ditempatkan di Pusat Pendidikan Arhanud (Pusdikarhanud).

Dalam aksi tempurnya, kanon dua laras ini dibekali 2 box magasin (di kiri dan kanan). Masing-masing box magasin hanya berisi 50 butir peluru. Bisa dibayangkan betapa borosnya amunisi yang harus dikeluarkan dalam aksi tembak cepat. Awak pendukung pastinya harus selalu siap bongkar pasang magasin dalam sikap tempur. Satu lagi yang cukup menantang, karena kecepatan tembak yang tinggi, membuat laras cepat panas. Secara prosedur, setiap 200 tembakan laras harus diganti. Kebetulan memang laras dirancang untuk bisa diganti secara cepat. Kabarnya, setiap kali latihan minimal harus disiapkan empat laras pengganti.

Sebagai sista modern, Giant Bow juga dapat dioperasikan secara terpadu. Lewat kendaraan BCCV (Battery Command & Control Vehicle) dapat dikendalikan sebanyak 4 sampai 8 pucuk kanon secara bersamaan dari jarak jauh. Dalam skema integrasi sistem senjata ini, setiap pucuk kanon tidak diperlukan lagi jasa dari juru tembak, semua keputusan tembakkan dilakukan secara terpusat dari truk komando BCCV. Hanya saja awak untuk loading amunisi harus tetap siaga, pasalnya loading amunisi masih manual. Sebagai info, BCCV ditempatkan pada truk Beiben (tiruan Mercy) buatan Cina.Di dalam truk komando BCCV, dilengkapi teropong bidik taktis TACTICOS dengan pembesaran 11x dan perangkat ODU (Optikoptical Director Unit). Tidak hanya BCCV saja, dalam paket intergrasi sista Giant Bow juga mencakup keberadaan mobile radar. Radar berperan sebagai panca indra dari BCCV dan Satbak (satuan tembak). Dalam platform truk Tiema XC230 4×4 (tiruan Mercy 2026) ditempatkan radar AS901A 3D. Radar yang beropersi di frekuensi L-band 10Mhz ini punya jangkauan deteksi lebih dari 30km, dan jangkauan deteksi ketinggian sampai 4km. Radar ini juga dibekali IFF (Identification Friend or Foe) interrogator.


Sebelum hadirnya Giant Bow, Yon Arhanudri Kostrad juga sudah berpengalaman menggunakan kanon PSU otomatis, yakni dari jenis Rheinmetall kaliber 20mm. Kanon dua laras buatan Jerman ini mulai digunakan Arhanud TNI AD sejak 1980 dan sampai saat ini masih aktif digunakan, memperkuat etalase sista SHORAD (short range air defence) di lingkup Kohanudnas.
Area Jakarta masih ada bandara yang sangat strategis, yakni bandara Halim Perdanakusumah. Tapi karena dioperasikan juga sebagai pangkalan udara TNI AU, maka untuk pertahanan titik menjadi tanggungjawab utama dari Paskhas yang juga dibekali rudal SAM QW-3.

 


Produksi : Norinco, Cina
Kecepatan Proyektil : 970 meter per detik
Kecepatan Tembak : 1.500 – 2.000 proyektil per menit
Berat kosong : 950kg
Lebar Siap Angkut : 1,83 meter
Lebar SiapTempur Roda Terlipat : 2,88 meter
Tinggi Siap Angkut : 1,83 meter
Tinggi Dalam keadaan terkunci : 1,22 meter
Sudut Putar : 360 derajat
Sudut Elevasi : -5 sampai 90 derajat


PETARUNG TAMBAHAN DI PERBATASAN

Ditengah keriuhan hadirnya MBT Leopard 2A4 dan IFV Marder 1A3, Pagelaran rudal LAPAN, Caesar, terselip sosok panser anyar yang berkualifikasi AFSV (Armoured Fire Support Vehicle). Meski ditilik dari sejarahnya, kavaleri TNI AD sudah mahfum dengan panser dengan senjata kanon, seperti Alvis Saladin, V-150 kanon, dan Panhard EBR, tapi baru lewat Tarantula, korps baret hitam ini resmi memiliki panser kanon berkemampuan amfibi dan kanon kaliber 90mm. Sebelumnya dikelas ini memang akan dimasuki Anoa versi kanon 90mm, tapi lantaran prototipnya belum lulus pengujian, TNI AD keburu ambil pesanan lain.

Dilihat dari platformnya, sosok ranpur ini punya rancang bangun serupa dengan Anoa buatan Pindad, yang kemudian diadaptasi lebih lanjut dalam varian-varian lainnya. Secara garis besar ranpur dibangun dari cetak biru struktur APC (armoured personel carrier), alias ranpur angkut personel. Tarantula dibuata oleh Doosan DST – Korea Selatan, ranpur ini aslinya bernama Black Fox. Selain tampil dalam versi berpenggerak 6×6, ranpur ini juga dibuat dalam versi 8×8, tapi konon versi 8×8 disebut-sebut sebagai produk gagal, karenanya pihak produsen pun tidak terlalu meng-expose versi tersebut ke pasaran.

Sebelum resmi ditampilkan dalam pemeran Alutsista TNI AD 2013, sebenarnya panser ini sudah ditampilkan dalam ajang Indo Defence 2010 di Kemayoran, wajar saja lantaran kontrak pembelian senilai US$70 juta baru ditandantangani oleh Kemhan RI pada tahun 2009. Kontrak pembelian menyiratkan pengadaan 22 unit Tarantula 6×6, 11 unit akan didatangkan langsung dari Korea Selatan, dan 11 sisanya ditangani semi rakitan oleh PT. Pindad.



Panser Kelas Berat
Bila dalam dunia tank tempur dikenal istilah MBT (main battle tank), maka Tarantula dalam dunia panser bisa juga disebut kendaraan tempur roda ban kelas berat. Disebut kelas berat lantaran bobot tempur Tarantula yang mencapai 18 ton, Tarantula lebih berat ketimbang heavy panser AMX-10RC dengan kanon 105mm buatan Perancis yang bobotnya hanya 15 ton. Bahkan, tank utama TNI AD dekade tahun 90-an, Alvis Scorpion punya berat hanya 8 ton. Sebagai perbandingan lagi, tank AMX-13 berat tempurnya 14,5 ton. Berat Tarantula, hanya kalah sedikit dibanding ranpur roda rantai Korps Marinir TNI AL, IFV BMP-3F yang punya bobot 18,7 ton.

Sebelum ditampilkan dalam versi kanon, Black Fox APC memang sudah punya bobot yang aduhai, yakni 16 ton. Versi APC memuat 3 kru dan 9 personel bersenjata lengkap. Apa yang membuat bobotnya sedemikian berat? Boleh jadi karena lapisan baja 6mm yang menyelubungi body, sehingga ranpur ini tahan dihujani proyekil kaliber 12,7mm, tapi bisa juga karena chasis yang memang jumbo.
Dari lini kesenjataan, unit kavaleri TNI AD pastinya sangat familiar dengan senjata utama di Tarantula, yakni kanon Cockerill MK3M A1 kaliber 90mm. Kanon buatan CMI Defense – Belgia ini dilengkapi peralatan mutakhir, seperti lanser range finder dan computer balistik. Kanon 90mm ini juga punya daya tolak balik yang rendah, sehingga tidak terlalu membuat guncangan pada kendaraan saat proyektil dilepaskan.

Cockeril 90mm punya jarak tembak maksimum hingga 6.000 meter, dan jarak tembak efektif 1.500 meter. Pada kubah terdiri dari dua awak, yakni juru tembak (gunner) dan komandan kendaraan. Dengan Cockerill, Tarantula tak hanya mampu melahap pada siang hari, tapi malam hari pun siap dijabani, pasalnya sudah terdapat night vision berbasis thermal, plus periskop dengan optik mutakhir. Sementara, tipikal amunisi yang disediakan adalah APFSDS-T (Armor Piercing Fin Stabilised Discarding Sabot-Tracer), HEAT (High Explosive Anti Tank), HE-T, dan Canister (anti personil). Dalam sistem penembakan, kanon 90 mm tidak hanya bekerja sendiri, Cockerill juga menyediakan proteksi balistik dari senapan mesin kaliber 7,62 mm yang larasnya bergerak mengikuti gerakan laras kanon (coaxial).
Bagi personel kavaleri TNI AD, sosok Cockerill MK3 bukan barang baru lagi, kanon low pressure ini sudah melekat sebagai senjata utama pada tank ringan Scorpion dan tank amfibi PT-76 Korps Marinir TNI AL juga menggunakan kanon jenis ini, menggantikan kanon kaliber 76mm.

Masuk Arsenal Batalyon Tank
Berdasarkan keterangan dari awak panser Tarantula yang dilatih selama 3 bulan di Korea Selatan, ranpur ini akan ditempatkan pada dua batalyon, yakni di Yonkav 1 Tank/Kostrad dan Yonkav 9 Serbu/Kodam Jaya. Merujuk dari komposisi kedua batalyon, tidak lain keduanya adalah kesatuan kavaleri tank. Yonkav 1 yang bermarkas di Cijantung – Jakarta Timur, berintikan tank Scorpion dan tank APC Stormer. Sementara Yonkv 9 yang bermarkas di Serpong – Tangerang, berintikan kekuatan tank AMX-13 dan tank AMX-13 VCI/APC.Dengan bergabungnya Tarantula di kedua batalyon kavaleri tersebut, maka Yonkav 1 dan Yonkav 9 akan menjadi batalyon kavaleri dengan kekuatan komposit, terdiri dari unsur tank dan panser. Sebelumnya porsi penempatan panser dengan kemampuan khusus dipusatkan pada Yonkav 7 Sersus/Kodam Jaya. Salah satu kekuatan YonKav 7 adalah panser kanon V-150 dengan beragam varian, termasuk versi kanon 90mm.

Bocorannya, Tarantula akan ditempatkan sebagai kekuatan pemukul di wilayah perbatasan RI, khususnya di Kalimantan. Medan Kalimantan memang dipandang ideal untuk gelaran panser yang punya keunggulan mobilitas dan low maintenance. Selama ini daya deteren kavaleri TNI AD di perbatasan Malaysia dipandang minim, mengingat hanya mengandalkan tank lawas AMX-13, panser Saladin, dan Saracen.

Performa Tarantula
Dapur pacu Tarantula 6×6 dipasok oleh mesin diesel DL08 6 silinder Segaris. Tenaga yang dihasilkan dari mesin adalah 400HP/2.200 RPM. Untuk sistem transmisinya masih menggunakan pola manual. Ranpur dengan 3 awak (juru tembak, komandan, dan juru mudi) ini kapasitas BBM 340 liter, dari kapasitas tersebut ranpur dapat menjelajah hingga 800km.

Dari spesifikasi resmi, kecepatan laju maksimum di jalan raya hingga 100km/jam, dan kecepatan maksimum di air 8km/jam. Untuk melaju di air, Tarantula dilengkapi dua propeller di bagian belalang, selain bantuan ban untuk melaju di air. Tarantula dapat mengatasi rintangan tegak setinggi 0,55 meter, rintangan miring hingga 30%, rintangan parit 1,5 meter, dan tanjakan hingga sudut 60%. Selain 3 orang awak, Tarantula dapat membawa 2 personel infrantri bersenjata lengkap. Dua personel ini duduk di bagian belakang secara berhadap-hadapan, untuk laju keluar masuknya melalui pintu belakang/ramp door.


Melihat peran Tarantula yang cukup strategis, idealnya kuantitas ranpur ini dapat ditambah untuk memperkuat lini panser kanon TNI AD. Atau, akan lebih baik bila PT. Pindad dan TNI AD menyempurnakan kembali Anoa versi kanon 90mm. Bagaimanan pun juga, produk alutsista Dalam Negeri harus diutamakan, sepanjang dari sisi teknologinya telah dikuasai secara memadai. (Gilang Perdana)

Spesifikasi Tarantula 6×6
Pembuat : Doosan DST, Korea Selatan
Mesin : diesel DL08 6 silinder Segaris
Kapasitas BBM : 340 liter
Berat Tempur : 18 ton
Jarak Jelajah : 800km
Kecepatan max di jalan raya : 100km per jam
Kecepatan max di air : 8km per jam
Senjata Utama : Cockerill MK3M A1 kaliber 90mm
Awak : 3 orang




SUPERIORITAS YAKHONT DI  PERBATASAN 


Masuk dalam keluarga artileri kapal perang, rudal anti kapal (anti ship missile) berperan untuk menghancurkan kapal yang ada di permukaan. Etalase rudal anti kapal milik TNI AL terbilang beragam.
Bila di segmen rudal darat ke udara, dan rudal udara ke udara punya platform yang baku, maka lain hal di segmen rudal anti kapal. Ada percampuran, alias irisan antara rudal anti kapal dengan rudal udara ke darat (air to surface missile/ASM) atau (air to ground missile/AGM). Ini tak lain, beberapa jenis rudal anti kapal, yang memang dilepaskan dari kapal, nyatanya juga terdapat versi lainnya yang dilepaskan dari pesawat tempur dan bomber. Beberapa rudal yang ‘hidup’ di dua segmen diantaranya adalah Exocet, Harpoon, Tomahawk, dan C-802.

Bahkan dalam varian yang lain, rudal anti kapal juga ditawarkan dengan platform peluncur di darat, biasanya dengan memadukan konsep kontainer yang ditarik truk, versi ini populer diadopsi oleh Exocet, C-802, dan Styx. Dan jadilah konsep ini sebagai elemen rudal pertahanan pantai, berfungsi menghancurkan kapal perang lawan dari wilayah pantai. Pola inilah yang kini didengungkan oleh angkatan bersenjata Iran dalam menghadapi ancaman agresi militer Barat.

Untuk urusan rudal anti kapal, secara kualitas Indonesia tidak tertinggal dan bisa mengimbangi kebutuhan dalam aspek keamanan. Selain terus menambah dan memperbaharui sistem rudal anti kapal pada armada frigat, korvet, dan KCR (kapal cepat rudal). Dari segi geopolitik, dengan kian banyak kapal perang TNI AL yang dilengkapi rudal, daya deteren juga bakal meningkat. Ujung-ujungnya merupakan hal positif juga yang didapat masyarakat, setidaknya kapal asing yang mencoba melakukan misi usaha ilegal dan pengintaian jadi harus berpikir dua kali.

Perlu jadi catatan, gelar rudal anti kapal akan lebih cepat memiliki efek deteren ketimbang rudal jenis lain, pasalnya rudal di segmen ini bisa diubah untuk tujuan ofensif (penyerangan) ke pihak lain. Maka dari itu, hadirnya rudal C-802, C-705 dan Yakhont sedikit banyak akan menjadi bahan analisa ancaman bagi negara-negara tetangga. Dan harus jujur diakui, saat ini hanya di segmen rudal anti kapal, TNI dapat unjuk gigi dimata militer negara lain.




Rudal Yakhont/P-800/Brahmos merupakan rudal buatan rusia yang hanya digunakan oleh 3 Negara saja di dunia ini.yaitu Rusia,Indonesia dan India.di India rudal ini dinamakan Brahmos,karena India sendiri mendapatkan lisensi untuk membuat rudal ini di India.rudal yang memiliki jarak tembak 300KM dengan kecepatan 2,5 Mach atau 2 Kali Lebih kecepatan suara.rudal ini dapat ditembakkan di lewat Darat,Laut(Kapal Perang) dan Pesawat Tempur.namun rudal ini lebih condong diluncurkan lewat Kapal Perang ataupun di Darat.karena rudal in sangat berat dan terbilang besar sehingga kurang cocok jika diluncurkan di pesawat tempur.
Untuk pertama kalinya pada hari Rabu, 20 April 2011, sebuah rudal Yakhont berhasil di ujicoba tembak oleh TNI AL di perairan selat sunda (Samudera Hindia). Lewat ujicoba ini akhirnya diketahui penempatan Yakhont, yakni di jenis frigat TNI AL kelas Van Speijk buatan Belanda. Saat ujicoba 20 April, Yakhont diluncurkan dari KRI Oswal Siahaan (354). Dalam ujicoba, sasaran tembak Yakhont berada di lintas cakrawala, yakni menghantam target dengan jarak 135 mil laut atau sekitar 250 km. Target Yakhont adalah eks KRI Teluk Bayur (502), sebuah LST (landing ship tank) keluaran tahun 1942 yang dibuat di Amerika Serikat.
Untuk kawasan Asean saat ini Rudal Yakhont yang dimiliki indonesia lah yang sangat canggih di Asean untuk kelas rudal permukaan-permukaan dan permukaan-daratan.




Menurut informasi dari situs Kementrian Pertahanan RI, saat ini 16 KRI sudah dipasang rudal Yakhont, yaitu enam pada kapal jenis frigat dan 10 di kapal perang Korvet. Masing-masing frigat dipasang delapan unit Yakhont sedangkan Korvet sebanyak empat unit. Pemasangan dilakukan sepenuhnya oleh PT PAL Surabaya.



Berdasarkan beberapa kriteria, rudal Yakhont bisa dianggap sebagai ketidak seimbangan persaingan persenjataan di kawasan. Apa alasannya ??
- Yakhont bisa meluncur di ketinggian 5-15 meter di atas permukaan laut. Memiliki kemampuan 2,5 kali kecepatan suara sehingga mengurangi waktu peringatan untuk kapal yang terkena target, terutama kapal perang yang belum dilengkapi untuk peringatan dini. Memang benar bahwa angkatan laut Asia Tenggara semakin lebih baik dilengkapi dengan sensor modern untuk memberikan peringatan dini dari peluncuran rudal yang akan datang dan untuk melacak rudal subsonik diatas permukaaan laut. Namun profil penerbangan Yakhont itu unik karena memiliki kemampuan mendeteksi sensor yang lebih canggih untuk melakukan target kapal perang musuh.


- Meskipun Vietnam telah menggunakan Yakhont di angkatan lautnya, yaitu varian ‘Bastion’ untuk pertahanan pantai yang digunakan untuk mempertahanankan diri. Namun, ketika dipasang pada sebuah kapal perang yang pada dasarnya adalah sebuah platform yang sangat mobile, menyebabkan Yakhont itu dapat diluncurkan diluar daerah pertahanan pantai suatu negara.
Sebelum yakhont dilahirkan, rudal anti kapal seperti Exocet buatan Barat dan Harpoon serta Styx buatan Rusia. Rudal-rudal tersebut sudah dipasang di kapal kapal perang Asia Tenggara yang memiliki jangkauan 200 Km.
Sebaliknya, Yakhont memiliki jangkauan maksimum 300 kilometer ketika diluncurkan dengan kecepatan tinggi, dan kecepatan maksimum 2,5 Mach.
Negara-negara diluar Asia Tenggara seperti di Pasifik Barat negara yang memiliki kemampuan setara yaitu Cina dengan kapal perang yang memiliki rudal Sunburn, dan Taiwan yang baru-baru ini telah memasang rudal Hsiung Feng III di atas kapal kapal perang tersebut.


- Kemampuan rudal Yakhont juga tidak mungkin dilakukan tindakan pencegahan yang efektif bagi sebagian besar angkatan laut Asia Tenggara. Hanya angkatan laut Malaysia, Singapura dan Thailand memiliki kapal berkemampuan rudal anti-rudal modern (AMM). Malaysia memiliki dua frigat bersenjata dengan AMM Seawolf dan empat korvet dengan Aspide, sedangkan Singapura memiliki enam frigat bersenjata dengan AMM Aster dan enam korvet dengan-Barak 1. Thailand memiliki dua frigat dilengkapi dengan sistem Sea Sparrow dan dua korvet dengan Aspide.


Rudal Yakhont merupakan mimpi buruk bagi seluruh angkatan laut di Asia Tenggara, karena kapal perang mereka hanya dilengkapi dengan rudal ground to air yang hanya efektif untuk target yang bergerak lambat sehingga sulit mencegah rudal tersebut.
Selain masuknya rudal yakhont dalam arsenal senjata TNI AL, di kawasan Asia Tenggara terjadi persaingan pengadaan kapal selam yaitu Malaysia dengan kapal selam Scorpene dan Singapura dengan kapal selam Vastergotland yang memiliki kemampuan AIP. Hal ini memicu persaingan kapal selam di kawasan Asia Tenggara. Indonesia ?? Merekalah para tetangga yang lebih tahu misteri Kapal Selam kita.... :)


" Rudal Yakhont TNI AL yang miliki kemampuan lebih unggul atas rudal anti-kapal di kapal perang di kawasan Asia Tenggara ".


Sehingga rudal yakhont juga ditunjukan untuk mempertahankan wilayah-wilayah yang masih disengketakan antara Indonesia dan Malaysia.
Dengan adanya rudal yakhont bisa menyebabkan reaksi dari angkatan laut di Asia tenggara untuk mengambil langkah-langkah pencegahan, terutama bagi angkatan laut negara-negara yang pulih dari krisis yang memicu untuk melakukan program modernisasi angkatan laut mereka, dengan alasan untuk menyetarakan kemampuan alutsista dengan Indonesia. Di pasar senjata internasional, senjata-senjata tersebut relatif mudah ditemukan karena rudal-rudal anti kapal banyak dijual oleh Rusia dan India yaitu Sunburn dan Brahmos. Sebelumnya India juga menawarkan Brahmos ke Indonesia tetapi Indonesia menolak tawaran tersebut karena lebih memilih Yakhont buatan Rusia.

“EFEK YAKHONT TERASA LUAR BIASA”
Apapun bentuknya, reaksi ketegangan yang dilakukan rudal Yakhont akan meningkatkan persaingan senjata dalam kawasan regional khususnya angkatan laut. Rudal Yakhont berpotensi mengganggu keseimbangan angkatan laut di Asia tenggara, meskipun Indonesia nyatakan bahwa rudal tersebut hanya dipasang sebatas kapal perang kelas frigat milik TNI AL.
Penunjukan reaksi gentar para jiran Indonesia terlihat dari peningkatan kemampuan pencegahan dengan cara melakukan pengadaan Barak, Seawolf dan sistem Aster AMM untuk menetralisir ancaman rudal yakhont yang dimiliki Indonesia walaupun bersifat untuk mempertahankan diri.
Kemudian reaksi lainnya terlihat dengan kapal perang jiran  yang dilengkapi dengan sistem AMM anti kapal sehingga bisa mengurangi ancaman dari rudal tersebut. Nahh loo.....Giliran Indonesia yang membantah Isu Perlombaan Senjata.....
Niat Indonesia untuk memiliki satu skuadron helikopter Apache dari Amerika Serikat (AS), Akuisisi 10 Kapal Selam jenis Kilo, Pemasangan Sistem Pertahanan S-300, Pagelaran Yakhont dan pengadaan ribuan roket R-HAN, Persiapan Modernisasi Sukhoi di generasi SU-35, menurut Menhan bukan sebuah tanda adanya perlombaan senjata di ASEAN. Menhan menjelaskan bahwa ASEAN tidak membutuhkan senjata. Sebagai sebuah komunitas, ASEAN sangat menyatu antara satu dengan lainnya.

" Mengenai perlombaan senjata, saya tidak percaya itu ada di antara negara anggota ASEAN. ASEAN benar-benar menyatu dan kami terus saling bertukar pikiran dalam ASEAN Defence Minister. Jika Anda melihat Singapura, Malaysia dan Thailand dan sebagian negara ASEAN lainnya mengalami peningkatan ekonomi. Maka wajar jika sebagian dari dana mereka, disisihkan untuk memoderenisasi militer mereka ".


Mengenai rencana Indonesia untuk memoderenisasi senjatanya, hal ini bukan berarti bahwa Indonesia bersiap untuk melawan negara ASEAN lainnya.
Menurut menhan memoderenisasi militer bukan berarti perlombaan senjata. Militer bukan berarti digunakan untuk perang, tetapi juga selain perang seperti bantuan saat bencana.
Selain itu, Menhan Purnomo menjelaskan bahwa ASEAN memiliki piagam yang menyebutkan bila salah satu negara anggota memiliki masalah dengan negara anggota lain, maka diupayakan ASEAN Spirit.
Bagi Purnomo, ASEAN Spirit adalah duduk, berbicara dan memecahkan permasalahan. Hal tersebut dapat dicontohkan dalam masalah perbatasan antara Kamboja dan Thailand.
Wilayah ini mungkin memerlukan kepercayaan antar lembaga-lembaga angkatan laut di ASEAN untuk membangun mekanisme untuk mencegah atau mengurangi persaingan senjata yang dilakukan angkatan laut ASEAN. Tapi mungkin sudah saatnya negara-negara di ASEAN untuk mengontrol angkatan laut mereka yang bertujuan untuk meningkatkan transparasi dan membantu untuk memastikan bahwa pengadaaan alutsista angkatan laut di ASEAN tidak lepas kendali.

Spesifikasi Yakhont

Negara Pembuat : Rusia
Pabrikan : Beriev
Jangkauan Tembak : 300 Km pada manuver jelajah tinggi
120 Km pada menuver jelajah rendah
Kecepatan : 2 – 2,5 Mach
Ketinggian Terbang : 5 – 15 meter (fase terakhir sebelum mengenai target)
Berat Bahan Peledak : 200 Kg
Pengarah Navigasi : aktif pasif radar seeker head
Jangkauan Tembak Minimum : 50 Km
Propulsi : solid propellant booster stage dan liquid propellant ramjet sustainre motor
Media Peluncuran : dari bawah air, kapal permukaan dan dari daratan
Berat : Rudal 3,000 Kg
Rudal plus kontainer 3,900 Kg






SIAPA YANG RISIH DENGAN SUPERIORITAS SUKHOI ?



Flashback sekian tahun lalu akhirnya terjadi, ketika dulu Indonesia tak digubris saat gelisah karena kepemilikan rudal-rudal jarak menengah-jauh Australia, kini merekalah yang mulai gelisah dengan superioritas alutsista Indonesia. Di tangan TNI semua jenis alutsista nampak begitu garang dan menakutkan. Hal ini karena TNI melakukan dan memiliki penguasaan tekhnologi dan skill diatas rata-rata.
Believe or not, Australia saat ini tengah berusaha untuk mengatasi ancaman yang bisa ditimbulkan oleh jet-jet tempur Sukhoi di Asia Tenggara. Dalam beberapa dekade terakhir, jarak yang jauh dan minimnya jangkauan pesawat-pesawat tempur angkatan udara di Asia Tenggara, memang masih memberikan rasa aman bagi Australia. Namun untuk saat ini, keamanan Australia terkikis oleh kedatangan jet-jet tempur super manuver Sukhoi 27 Flanker dan Sukhoi 30 Flanker C.
Jet-jet tempur Sukhoi ini sudah melengkapi Angkatan Udara China, Indonesia, Malaysia dan Vietnam dalam jumlah yang besar. Kedatangan Sukhoi ini telah membuka "teater baru" di Asia Pasifik. Pilot Angkatan Udara Australia, yang semula menganggap dirinya dominan karena menggunakan F-18 Hornet dan pembom F-111 Aardvark, sekarang harus "menutup muka" dari Flanker Sukhoi yang memang unggul hampir pada setiap aspek. Akuisisi Sukhoi Su-27SK dan Su-30MK buatan Rusia ini oleh negara-negara di Asia Tenggara, menyajikan sebuah kenyataan bahwa dimana F/A-18A/B/F Australia kalah dalam hampir semua parameter kinerja utama, baik oleh Su-30 maupun Su-27.
Dari perspektif analisis strategis, akusisi alutsista canggih oleh negara-negara marginal stabil seperti Indonesia atau pemain regional lainnya, harus menjadi perhatian yang serius - walaupun ini masih diluar jumlah mengesankan yang diakuisisi oleh China. Kedatangan alutsista jarak jauh seperti Sukhoi dan suite rudal canggih di kawasan Asia Tenggara memang bisa meresahkan Australia, dan menyajikan konteks strategis yang sama sekali baru.

Manuver Sukhoi ( misal,Pughacev Cobra = nama sebuah manuver pesawat tempur. Manuver ini adalah demonstrasi kontrol pitch, sudut serangan tinggi yang stabil, dan kemampuan mesin. Manuver Pughacev Cobra terdiri dari belokan yang sangat cepat yang dapat menghindari dari serangan, atau memposisikan diri untuk menyerang. ) memang legendaris, dengan jangkauannya yang lebih dari 3000 km, memberikan Flanker Sukhoi keunggulan dalam pertempuran udara. Memungkinkan untuk melakukan taktik probes and U-turns berulang (sebuah taktik Perang Dingin Rusia), yang dapat membuat lawannya bingung dan rentan dalam sebuah pertempuran udara. Memburu Sukhoi akan menjadi salah satu pekerjaan yang paling berbahaya dalam pertempuran.

Jangkauan yang luar biasa dari Sukhoi ini dapat ditingkatkan dua kali lipat dengan air refueling (pengisian bahan bakar di udara). Bayangkan bagaimana kekuatan Sukhoi Indonesia jika suatu hari diperkuat dengan pesawat tanker, pasti sangat meresahkan Australia. Untuk saat ini, Sukhoi-sukhoi Indonesia dapat memperjauh jangkuannya dengan pengisian bahan bakar dari Sukhoi lainnya, dimana setengah armada Sukhoi akan di isi oleh setengah Sukhoi lainnya.

Sukhoi memiliki 12 hard point (cantelan senjata), ini lebih banyak dari pesawat tempur lain. Fitur ini membuat Sukhoi mampu untuk membawa pack senjata yang mematikan, yaitu seluruh amunisi rudal dan bom pintar. Biro-biro senjata Rusia telah mengembangkan dengan baik berbagai macam rudal udara-ke-udara dan udara-ke-permukaan -termasuk rudal jelajah- yang pada beberapa kasus kemampuannya belum bisa disamai senjata-senjata NATO. Sembilan puluh empat pesawat Hornet Australia ini akan sangat rentan terhadap Sukhoi yang melampaui jarak pandang rudal.


Australia juga khawatir dengan kerentanan platform gas dan aset industri lainnya di pesisir timur negara mereka. Defence Today menjelaskan "Dari sudut panjang senjata, sebuah rudal supersonik Raduga 3M-82/Kh-41 Sunburn, MBRPA 3M-55/Kh-61 Yakhont atau rudal jelajah subsonik anti-kapal Novator 3M-54E1 Alfa sangat efektif untuk melumpuhkan atau bahkan menghancurkan salah satu fasilitas besar dalam sekali serangan. Rudal ini didesain untuk membelah kapal perang kecil dan menimbukan kerusakan parah pada kapal perang besar (lihat test Yakhont yang dilakukan TNI AL). Jika kecelakaan industri dan kebakaran di pabrik petrokimia dan anjungan lepas pantai saja sangat mudah terpicu karena hal-hal kecil, maka dapat dipastikan sebuah serangan rudal itu dapat membuat kebakaran yang tak terkendali.
Kedatangan Sukhoi di Asia Pasifik juga menambah kerentanan terhadap kapal induk bertenaga nuklir milik AS. Militer Amerika sudah bersiaga, dimana CVNs (kapal induk dan pendukungnya) sudah dalam status siaga perang melawan Sukhoi.

 

Di masa lampau, kapal induk bertenaga nuklir, dilindungi oleh lingkaran kapal pendukung dan pesawat AWACS, dan tentu saja pesawat tempur mereka sendiri, mampu berlayar ke wilayah konflik mana saja tanpa rasa takut. Namun, untuk saat ini semua itu tinggal sejarah. Kenangan yang ingin selalu terulang gaungnya. :)
Saat ini, semua kapal induk AS yang mencoba mendekati pantai China akan ditarget oleh Sukhoi berbasis darat dan akan menembakkan rudalnya pada jarak yang aman. Pada hakikatnya, lahirnya Flanker Sukhoi telah mengakhiri era diplomasi armada kapal perang Amerika.


Angkatan Udara Australia bukan angkatan udara besar, namun mereka menganggap dirinya terlatih, dengan pilot-pilotnya yang suka berfikir bahwa mereka mirip dengan Maverick dari Top Gun. Mereka dilatih sesuai dengan standar barat yang diyakini bahwa ini akan menjadi faktor penentu dalam perang. Namun, keterampilan pilot, seperti halnya alutsista canggih, juga dapat diimpor. Pilot India, yang saat ini termasuk dalam jajaran pilot terbaik di dunia, kini melatih Angkatan Udara Malaysia. China dan Indonesia juga suatu saat akan menemukan acces udara sendiri untuk melatih pilot mereka, atau bisa saja mereka sudah menggenggam semua kemampuan Sukhoi di tangannya. Dalam sejarahnya, pilot-pilot pesawat tempur Indonesia termasuk salah satu pilot yang terbaik di dunia, bahkan menonjol di Asia. Tanpa mendikte ingatan anda, lihat saja atraksi akrobatik pilot-pilot Indonesia. Semua manuver itu jauh diatas kemampuan rata-rata hingga melampui mesin latih dan instrukturnya. Woow.....cukup begitu saja ekspresi anda :)


Sebagai realisasi dan kesadaran mereka atas Flanker Sukhoi yang mendegradasi pertahanan dan keamanan Australia, akhirnya Australia memutuskan untuk mengakusisi pesawat tempur siluman dan menaruh pesanan untuk 100 unit F-35 JSF. Apakah ini akan mempengaruhi kedigdayaan Flanker Sukhoi ? Ini masih cerita lain, belum jelas juga apakah Australia mampu mengakuisisi 100 F-35 mengingat harganya yang menggila. Untuk saat ini, Sukhoi 27 dan variannya masih superior dari fighter-fighter milik Australia.....
Jika demikian, barangkali mereka akan lebih kaget lagi setelah F-35 mereka datang sementara diangkasa mereka justru telah beda penguasanya, apalagi jika bukan SU-35 yang juga akan diakuisisi Indonesia. Jika Perang bukanlah sebuah gaya menunjukkan kuasa sebuah bangsa modern, maka barangkali perang itu adalah sebuah budaya tua yang pernah memperkaya ranah sejarah nusantara ini juga. Jika nampak kita ini diam dan lemah, maka sebenarnya kita lebih bisa menerima dan lebih dewasa memaknai bagian sejarah perang itu sendiri sebagai sejarah usang. Majulah Negeriku...Jayalah INDONESIA !!












14 komentar:

  1. subuah paparan dan analisa yg bagus dri penulis,..memang sebuh keharusan dan idealitas alutsista, yg harus di miliki dan di kejar oleh TNI dlm mencapai kesetaraan dan membangun efect detern di kawasan ASEAN sebagai arsenal (pengawal NKRI). Jadi ini lah masanya jika kita (Indonesia) ingin di segani,berwibawa,dan bermartabat di kawasan Asean maupun asia pasific, maka tiada alasan/perdebatan lagi, untuk para anggota dewan/pemerintah mencari2 alasan, namun harus mendukung dan mendorong rencan dan modernisasi alutsista. semoga segala kepahitan,kehinaan,pelecehan,maupun provokasi negeri 2 jiran thdp NKRI yg pernah kita alami,bisa menjadi pembangkit rasa nasionalisme bangsa ini. Sehingga segera dan secepatnya membangun kekuatan dan,modernisasi militer,sebab di situlah letaknya Harga diri BANGSA INDONESIA yang mengaku negara besar dan berdaulat. tks

    BalasHapus
  2. Semangat...! galang persatuan dan kesatuan demi keutuhan NKRI sudah saatnya Indonesia bangkit dan melawan kesombongan negara tetangga yang sudah diluar batas kesabaran.

    BalasHapus
  3. saya jadi trenyu,mrinding sekaligus bangga melihat kekuatan TNI kita ,jayalah bangsaku maju terus jangan pernah mau didikte bangsa asing demi indonesia

    BalasHapus
  4. Perlahan rasa bangga terhadap TNI itu mulai mucul kembali,,,JAYALAH TERUS BANGSA KU

    BalasHapus
  5. mantaapp.....!!!!!!
    ijin nyimak ndan!

    BalasHapus
  6. Apapun yang terjadi, tetap INDONESIA

    BalasHapus
  7. Kekuatan senjata yang kita miliki akan sebanding dengan bargaining position kita dalam percaturan antar bangsa. Meningkatnya kemampuan dan kekuatan TNI akan meningkatkan pula bobot negosiasi kita dalam penyelesaian suatu masalah.... dan yang tentunya lebih penting lagi adalah kekompakan dan kesatuan serta kesadaran berbangsa bagi segenap warga dan rakyat indonesia dalam memantabkan semboyan bahwa NKRI adalah harga mati... itu menjadi tugas dan kewajiban bagi siapapapun yang merasa menjadi bagian dari bangsa Indonesia....

    BalasHapus
  8. kalau ada negara lain yg macam2 tembak aja,

    BalasHapus
  9. Rawe-rawe rantas malang-malang putung. Jayalah INDONESIA

    BalasHapus
  10. Perkuat dlu angkatan udara dan pertahanan udaranya,,, jgn lgsg beli leopard yg mubazir dan tdk tepat guna...

    BalasHapus
  11. Negara yang kuat afalah rakyat yang kuat yang di dukung persenjataan yang kuat..untuk menghancurkan,menyerang suatu negara lakukan dari dalam..profokasi rakyat,ini yang biasa terjadi di timur tengah yang tak pernah usai..oleh karena itu kita bangsa besar jangan mudah terprofokasi, adu domba, janji dan bantuan asing karna akan merugikan kita sendiri..kita mesti bangkit dengan kaki sendiri,jatuh adalah pelajaran berharga.kami yakin indonesia bisa.jaya bangsa ku,jaya negri ku..NKRI ADALAH HARGA MATI BAGI KAMI..hidup NKRI,

    BalasHapus