13 Maret 2015

BERHITUNG MEMILIH MATA DAN TELINGA NKRI



 
Radar Rusia Akhiri Era Pesawat Tempur Stealth ?
Seorang ahli militer Rusia telah menyatakan sesuatu yang tampaknya mengerikan bagi Amerika Serikat. Adalah Dr. Igor Sutyagin, yang mengklaim bahwa pesawat tempur dan pesawat pembom siluman tidak akan dapat terus tersembunyi seiring teknologi radar musuh yang semakin baik. Militer Amerika telah menghabiskan banyak waktu, tenaga dan dana untuk mengembangkan pesawat-pesawat tempur siluman, dan hingga kini pun masih terus dilakukan. Dan apabila pesawat-pesawat siluman itu hanya akan kalah dari sistem pertahanan udara yang nilai investasinya jauh lebih murah, maka benar-benar sangat menyakitkan.

Jika pernyataan Sutyagin benar adanya, Amerika akan dihantui masalah besar. Sejak tahun 1970-an, sudah triliunan dolar yang telah Washington habiskan untuk merancang dan membangun pesawat-pesawat siluman seperti F-117, B-2, F-22, dan F-35 dan pesawat pembom baru yang saat ini masih dikembangkan yaitu Long-Range Strike Bomber (LRSB). Kerugian terbesarnya adalah Amerika Serikat akan kehilangan dominasi udaranya.
Argumen Sutyagin cukup sederhana. Menurutnya, platform siluman seperti F-35 memang menawarkan peningkatan kemampuan proyeksi kekuatan. Namun, kemampuan teoritis perangkat keras militer tidak selalu dapat diterjemahkan efektivitasnya di medan perang sesungguhnya.
Pernyataan Sutyagin ini muncul dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Royal United Services Institute, yang berjudul "Limits of Stealth" di mana Sutyagin menyatakan bahwa radar "low-band" atau "low-frequency" akan lebih cepat menemukan pesawat radar-evading (siluman). Dalam artikelnya, Sutyagin mengakui bawah sensor semacam ini telah ada lebih dari 80 tahun. Tampaknya memang benar, karena berbagai laporan mengatakan bahwa pada tahun 1999 militer Serbia telah mengerahkan jenis peralatan ini untuk menembak jatuh pesawat pembom siluman F-117A Angkatan Udara AS. Baik sebelum kejadian penembakan F-117 oleh Serbia ataupun sesudahnya, para ahli pertahanan juga telah menyadari ancaman radar low-band ini.
Kutipan dari artikel Sutyagin: "Salah satu elemen yang paling penting dari ekspor pertahanan udara Rusia adalah sarana yang unik untuk mendeteksi pesawat musuh. Tidak seperti negara-negara Barat, Rusia terus mengembangkan teknologi radar low-band sejak tahun 1930-an dan telah mencapai hasil yang mengesankan." Sutyagin menambahkan: "Sistem deteksi pertahanan udara saat ini yang dipasarkan oleh produsen pertahanan Rusia merupakan penantang serius terhadap potensi kekuatan udara Barat saat ini dan di masa depan di berbagai belahan dunia."
Juga, menurut Sutyagin, jammer musuh tidak terlalu efektif dalam mengacaukannya dan rudal anti radiasi cenderung hanya menyerang sekitar radar bukan memukul radar itu sendiri. Banyak teknik SEAD (suppression of enemy air defences) canggih saat ini, namun belum ada yang cocok untuk menekan sistem pertahanan udara yang berbasis radar low-band. Pendapat ini benar adanya. Radar low-band mampu mendeteksi benda-benda yang sangat kecil atau bagian-bagian kecil dari sebuah objek yang besar, misalnya mendeteksi suatu tonjolan pada airframe sebuah pesawat siluman. Para ahli penerbangan termasuk Bill Sweetman dari Aviation Week sangat mengkritik F-35 karena badan F-35 yang bergelombang (menonjol-nonjol), yang membuatnya lebih mudah untuk dideteksi. Radar low-band dapat digunakan untuk memandu SAM (rudal permukaan ke udara) ke sekitar target siluman, dan selanjutnya SAM terbang sendiri untuk menemukan target dari aspek radar cross section mana yang lebih tinggi, seperti di bagian samping atau belakang, bukan terbang langsung ke target. Sensitivitas unik radar low-band merupakan aset berharga bagi negara manapun yang berusaha mendeteksi pesawat siluman musuhnya. Tapi kenyataan selama ini menunjukkan bahwa operator radar low-band kurang dapat memaksimalkan keunggulan radar ini. Karena radar low-band sangat sensitif, operator banyak menemukan kesulitan jika pesawat tersebut sedang melewati awan, saat hujan atau karena gangguan lainnya yang cenderung bisa membuat kesalahan deteksi.
Itu masalahnya selama ini, dan Sutyagin juga mengakui bahwa untuk menggunakan radar low-band membutuhkan taktik pertahanan udara yang canggih dan rumit. Tapi dalam artikelnya, Sutyagin juga menegaskan bahwa taktik radar low-band Rusia telah mengalami perbaikan yang signifikan. Dia menjelaskan bahwa komputer kuat Rusia saat ini sudah mampu memilah-milah antara target dan noise yang ditangkap oleh radar low-band.
 

Berkemampuan siluman akankah menjadi sia-sia?
Pernyataan dari ahli militer Rusia ini bukanlah hal baru. Tapi kita juga tidak bisa berpendapat bahwa dengan radar yang lebih baik maka akan membuat pesawat tempur siluman menjadi usang. Kenyataannya cukup rumit. Kemajuan teknologi senjata kontra siluman di seluruh dunia tentu akan membuat Amerika khawatir, tapi Amerika juga pasti sudah menyadari bahwa teknologi siluman tidak akan pernah mencapai kesempurnaan karena teknologi kontra siluman juga terus dikembangkan. Hari ini mungkin terlihat sempurna, besok sudah tidak lagi.
Setiap pesawat baru akan diperkenalkan dengan lingkungan tempur baru yang selalu berubah, termasuk untuk mengatasi sistem-sistem pertahanan udara canggih. Sejak penerbangan militer pertama kali, taktik tempur udara terus berubah seiring kemajuan teknologi. Baik Amerika dan Rusia menyadari hal ini.
Satu yang tampaknya tidak bisa diabaikan adalah 'Hukum Moore' yang menyatakan bahwa: "Kompleksitas sebuah mikroprosesor akan meningkat dua kali lipat tiap 18 bulan sekali". Hal ini memang terbukti dan cenderung lebih cepat akhir-akhir ini. Hubungannya dengan platform siluman dan sistem kontra siluman adalah fakta bahwa kedua teknologi canggih ini sangat tergantung dari keunggulan pemrosesan komputer dan terus saling unggul mengungguli satu sama lain.  Itulah sebabnya mengapa selain radar low-band, Moskow, Beijing dan Washington juga bereksperimen dengan sensor inframerah jarak jauh sebagai alternatif radar, dan mengembangkan jammer dan senjata hipersonik sebagai alternatif jika sulit menembus sistem pertahanan udara. Senjata-senjata hipersonik yang memiliki kecepatan tinggi dan jarak jauh ini akan sangat membantu ketika efektivitas fitur siluman sudah menurun. Sebuah pesawat terbang yang rentan pada sistem pertahanan udara tidak perlu terbang begitu dekat dengan radar musuh jika mereka bisa menyerang dari jarak jauh dengan senjata yang sangat sulit untuk dicegat.
Berarti fitur siluman akan menjadi sia-sia? Tentu saja tidak. Fitur siluman saat ini telah menjadi fitur standar bagi pesawat-pesawat tempur modern sebagaimana radio dan radar mereka. Pesawat-pesawat di masa depan akan tetap menggunakan fitur siluman meskipun fitur siluman tidak lagi memberikan keunggulan yang besar. Fitur siluman mungkin bukan lagi "obat yang mujarab", tetapi tidak memiliki fitur siluman, maka risiko kematian di udara semakin besar. Sebuah sensor canggih pasti masih akan lebih kesulitan mendeteksi pesawat siluman ketimbang pesawat biasa. 

 

AU Rusia 'Hancurkan' Pertahanan Inggris
Nasib payung udara Inggris sangat ironi sekali dengan Rusia, karena manuver yang dilakukan pesawat-pesawat Rusia telah memperlihatkan dominasi negara itu atas rentannya pertahanan Inggris.
"Mereka (pesawat Rusia) terbang di kawasan ini untuk memeriksa pertahanan udara kita. Mereka mungkin telah mempelajari bahwa kita tidak setajam dulu," kata Menteri Pertahanan Inggris Michael Fallon.
Dikutip dari laman Daily Mail, Jumat 20 Februari 2015, setidaknya ada 17 insiden sejak akhir 2014, di mana pesawat militer, kapal, dan kapal selam Rusia melakukan perjalanan dekat dengan wilayah Inggris.
Beberapa petinggi militer Inggris juga mengeluarkan peringatan, setelah beberapa jet Inggris mencegat dua pesawat pembom Rusia yang mampu mengangkut rudal-rudal nuklir.Mereka menyebut, Inggris tidak dapat mengatasi serangan Rusia, karena pertahanan udara Inggris akan dengan mudah dihancurkan oleh pesawat-pesawat temur Rusia.
Tapi kekhawatiran itu ditepis oleh Perdana Menteri Inggris David Cameron. Dia menyebut, pencegatan itu justru memperlihatkan bahwa Inggris memiliki pesawat jet tercepat, pilot, dan sistem untuk melindungi negara. Pernyataan Cameron itu segera dicemooh oleh mantan petinggi angkatan udara, yang mengatakan jumlah skuadron tempur Inggris berkurang banyak sejak berakhirnya Perang Dingin.
Saat ini, hanya tersisa tujuh skuadron dari sebelumnya 26 skuadron, sebagai akibat dari pemotongan anggaran angkatan udara oleh pemerintah. Sejak 2010, jumlah tentara dipangkas sebanyak 30 ribu personil. Kapal, pesawat, dan tank juga dipangkas dalam upaya penghematan, membuat Kementerian Pertahanan Inggris kekurangan dana sebesar £40 miliar, atau hampir Rp800 triliun untuk belanja peralatan tempur.
"Typhoon adalah pesawat yang sangat baik, tetapi dengan jumlah yang sedikit, mereka akan dapat diatasi," kata Marsekal Udara (Purn) Andrew Lambert, yang pernah memimpin pasukan aliansi di Irak tahun 1999. 
Angkasa Indonesia masih berlubangkah ?? Bangkitlah Indonesia.......




 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar