05 September 2013

MR. OBAMA, SYRIA TAK BUTUH (INTERVENSI MILITER) ANDA !!

STOP THE MASSACRE IN SYRIA !! STOP WAR !!


Negara-negara Barat, termasuk AS dan Inggris, berencana mengambil aksi militer sepihak terhadap rezim Bashar al-Assad di Suriah dalam waktu dua pekan mendatang. Langkah militer diambil setelah ada serangan senjata kimia kepada warga sipil yang diduga negara Barat dilakukan oleh pemerintahan Assad. Perdana Menteri Inggris, David Cameron, dilaporkan membahas serangan rudal dengan Presiden AS Barack Obama melalui telpon selama 40 menit. Mereka juga membahas bersama Presiden Prancis, Francois Hollande, pada minggu (25/8).  (kebo dah...ini nih kelakuan orang-orang munafik yang kebetulan dianugerahi kekuasaan, nasib sebuah bangsa, nilai harta dan jutaan nyawa hanya butuh waktu 40 menit untuk memutuskannya jadi sebuah niat  agresi)

" Kita tidak bisa mengizinkan di abad ke-21 ini, senjata kimia dapat digunakan dengan impunitas dan tidak ada konsekuensi ". 

Tuh coba liat kata mereka, ahli sejarah mestinya gak usah jauh-jauh belajar ke Giza jika hanya ingin tau karakter Fir'aun dimasa lalu. Hehehehehe........
Setiap aksi militer kemungkinan akan berupa serangan rudal dari angkatan laut Amerika. Kapal angkatan laut AS telah bergerak lebih dekat ke Suriah. (Gila yaah ? Barat yang ngembangin senjata kimia, mereka yang jual terus giliran meledak dinegara orang, ee malah dituduhin. Jadi ingat kayak mata rantai penjualan narkoba aja nih. Aparat yang punya, dikirim ma antek, dijual laku baru digrebek. Sisa barang angkut lagi ke markas, diapain ??? ya diedarkan buat cari tersangka baru lagi aahhhh wkwkwkwk..... )
Sementara itu, Suriah akhirnya menyetujui inspektur PBB mengunjungi lokasi dugaan serangan senjata kimia. Serangan senjata kimia dilaporkan telah menewaskan 350 orang dan melukai 3.600 orang dengan gejala gangguan syaraf. Akan tetapi, Washington mengatakan langkah itu terlalu terlambat dan menuduh pemerintah Suriah menyembunyikan sesuatu. Mereka menduga Suriah menunda akses inspektur PBB selama empat hari untuk menutupi bukti.


Panel Senat Amerika Serikat menyetujui penggunaan militer di Suriah untuk merespon serangan senjata kimia. Permintaan serangan itu akan mengizinkan penggunaan militer di Suriah selama 60 hari dengan kemungkinan perpanjangan waktu 30 hari. Tetapi mereka tidak akan menggunakan tentara AS di darat. Komite hubungan luar negeri senat menyetujui dengan satu absen. Persetujuan itu untuk mengubah keseimbangan kekuatan militer di Suriah. Presiden Barack Obama masih harus berjuang mencari dukungan dalam negeri dan luar negeri untuk aksi militer. Selain senat, persetujuan dari parlemen juga masih harus dicari. Presiden Barack Obama gagal meyakinkan sebagian besar warga Amerika Serikat (AS) untuk meluncurkan serangan terbatas ke Suriah sebagai respons kecurigaan penggunaan senjata kimia.

Survei menyebut 56 persen warga AS mengatakan negara seharusnya tidak mengintervensi Suriah, dan hanya 19 persen yang mendukung aksi tersebut. Sekitar 25 persen responden tidak tahu mengapa AS harus bertindak ke SuriahTemuan tersebut tidak berubah dari pekan lalu yang mengindikasikan Obama hanya mengubah sedikit niatnya ketika Washington menyalahkan pemerintahan Assad atas serangan senjata kimia yang menewaskan lebih dari 1.400 orang pada 21 Agustus. Polling menunjukkan mereka akan mendukung jika ada serangan melawan senjata kimia.

Namun, hanya 29 persen yang setuju AS harus mengintervensi, sementara 48 persen menolak aksi. Sekitar 24 persen lainnya menjawab tidak tahu. Obama pekan lalu memutuskan AS harus mengambil tindakan militer melawan pemerintah Suriah. Namun, dia harus menanyakan kepada Kongres untuk menyetujui serangan. Sejauh ini, hanya 23 senator yang mendukung atau menginginkan resolusi atas Suriah. Sekitar 16 senator mengatakan mereka menolak resolusi, sementara 61 suara belum memutuskan atau tidak diketahui.

Dalam laporan yang dilansir New York Times, 65 persen warga AS sepakat dengan pernyataan masalah di Suriah bukan urusan AS. Di Inggris, 58 persen warga yang disurvei sepakat dengan pernyataan tersebut. Sekitar 29 persen warga yang disurvei menyatakan mendukung pemerintahan Obama mempersenjatai oposisi Suriah. Namun, 49 persen warga menolaknya. Sementara 21 persen mengatakan mereka tidak tahu.

 

Rusia Menolak Keras Agresi Barat
Rusia mengingatkan Amerika Serikat untuk tidak mengulangi kesalahan serupa di Timur Tengah saat mencoba ikut campur urusan dalam negeri Suriah.
Menurut Rusia, tindakan militer AS di Suriah akan mengancam usaha perdamaian dan berdampak buruk bagi situasi keamanan di Timur Tengah. Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan, peringatan tersebut merupakan respon kepada Amerika yang belakangan membuka kemungkinan untuk melakukan serangan bersenjata ke Suriah.
Rusia mencatat kesamaan antara laporan pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad telah menggunakan senjata kimia dengan intervensi militer Washington pada 2003 di Irak, pascatuduhan pemerintahan Presiden George W Bush, pemimpin Irak Saddam Hussein mempunyai senjata pemusnah massal. Putin mengatakan Rusia tidak mendukung pasukan dewan keamanan PBB untuk menyerang Suriah.
"Jika ada bukti senjata kimia digunakan, itu harus disampaikan kepada dewan keamanan PBB dan harus menyakinkan ".

Dia menambahkan Rusia siap bertindak jika ada bukti tentang senjata yang digunakan dan siapa yang menggunakannya. Persetujuan akan diberikan melalui voting pekan depan. Rusia dan Cina yang merupakan anggota tetap DK PBB diprediksi memveto keputusan PBB untuk menyerang Suriah. Kedua negara tersebut merupakan pendukung pemerintahan rezim Assad di Suriah.

" Kami sekali lagi mengingatkan dengan keras kepada Amerika Serikat untuk tidak mengulangi kesalahan pada masa lalu dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat melanggar hukum internasional, Setiap tindakan militer sepihak tanpa persetujuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa hanya akan menyebabkan situasi di Suriah semakin memburuk dan memperparah situasi keamanan di Timur Tengah yang saat ini sudah berbahaya " .

Moskow mengatakan, setiap tindakan militer dapat menghambat usaha bersama Amerika bersama Rusia mengadakan konferensi internasional untuk mengakhiri perang saudara yang telah menewaskan lebih dari 100 ribu orang.

"Ancaman penggunaan kekuatan militer kepada rezim Suriah akan mengirimkan pesan yang salah kepada kubu oposisi. Semua pendukung oposisi, yang mempunyai pengaruh terhadap mereka, harus segera berusaha menyatukan pendapat untuk kembali bernegosiasi " . 
Presiden Amerika Serikat Barack Obama bertemu dengan penasihat keamanan. Pertemuan itu untuk membicarakan respon terhadap laporan dugaan penggunaan senjata kimia di Suriah. Pasukan angkatan laut Amerika Serikat telah ditempatkan di laut Mediterania untuk bersiap jika perintah dari Washington datang. Kubu oposisi Suriah menuduh pasukan Bashar telah melepaskan gas beracun yang menewaskan ratusan orang bahkan salah satu laporan menyebut sebanyak 1.300 orang tewas. Sementara kubu pemerintah mengatakan pada Ahad mengizinkan tim ahli dari PBB untuk mengunjungi tempat tersebut.
 



Pro-Kontra Semakin Meruncing 
Para pemuka agama gereja Katholik di Amerika Serikat (AS) menentang aksi militer ke Suriah. Dikatakan, langkah tersebut akan mengarah pada akibat yang lebih buruk. Dalam surat yang ditujukan kepada Presiden Barack Obama, Konferensi Uskup Katholik AS mengatakan, Washington justru harus segera bekerja tanpa lelah bersama negara lain untuk mengakhiri perang saudara di Suriah. 
Meski pun mengecam pemakaian senjata kimia di Suriah, Paus Fransiskus dan seluruh uskup nasrani di Timur Tengah mendesak masyarakat internasional untuk menghindari intervensi militer.

" Mereka menyatakan dengan jelas bahwa serangan militer akan kontra-produktif. Akan makin memperkeruh suasana yang sudah mematikan dan juga bakal membawa akibat yang lebih buruk " .

Penandatanganan surat itu dilakukan Kardinal New York, Timothy Dolan, sebagai ketua Konferensi serta Uskup Richard Pates dari Iowa, selaku ketua komite perdamaian dan keadilan internasional. Gereja Katholik adalah komunitas terbesar di antara umat nasrani di AS.  
Paus Fransiskus bahkan telah mengumumkan untuk berpuasa satu hari demi berdoa bagi Suriah. Ia juga mengatakan, Tuhan dan sejarah akan mengadili mereka yang menggunakan senjata kimia.
Rusia, yang mencurigai serangan tersebut dilakukan gerilyawan oposisi, juga menuduh satu pihak sebelum adanya kesimpulan dari tim investigasi PBB akan menjadi 'kesalahan tragis'.
Politikus Inggris, George Galloway, menyebut senjata kimia yang mungkin digunakan di Suriah bukan berasal dari pemerintah Presiden Bashar Al Assad. Menurut dia, senjata itu kemungkinan digunakan Alqaidah yang mendapat pasokan dari Israel.

"Jika ada penggunaan gas saraf, itu adalah pemberontak yang menggunakannya. Jika telah terjadi penggunaan senjata kimia, itu Alqaidah yang menggunakan senjata kimia. Siapa yang memberi mereka senjata kimia? Menurut teori saya, Israel memberi mereka senjata kimia."

Komentar Galloway tersebut diberikan setelah inspektur PBB mendapat akses mengunjungi lokasi serangan senjata kimia yang diklaim telah menewaskan lebih dari 1.300 orang.

Menteri Luar Negeri Prancis, Laurent Fabius, mengatakan masyarakat internasional mungkin harus menggunakan kekuatan jika Suriah terbukti menggunakan senjata kimia dalam serangan kepada oposisi. Rekaman yang belum diverifikasi menyebut korban termasuk anak-anak menderita kejang-kejang dan kesulitan bernapas. Video itu beredar di Youtube.
Jumlah korban tewas juga belum dapat dikonfirmasi. Koalisi Nasional Suriah mengklaim ada 1.300 orang kematian. Jumlah itu didasarkan pada klaim dan foto-foto aktivis di lapangan.

Rusia dalam beberapa hari ke depan mengirim kapal anti-kapal selam dan kapal penjelajah berpeluru kendali ke laut Tengah pada saat Barat menyiapkan kemungkinan serangan terhadap Suriah.

" Keadaan berkembang di laut Tengah timur menyerukan koreksi tertentu untuk meningkatkan angkatan laut, Sebuah kapal anti-kapal selam besar dari Armada Utara akan bergabung dengan mereka (angkatan laut yang ada) selama beberapa hari ke depan.Satu kapal penjelajah roket dari Armada Laut Hitam yang sekarang mengakhiri tugasnya di Atlantik utara dan akan segera memulai perjalanan transatlantik menuju Selat Gibraltar."

Selain itu, sebuah kapal penjelajah roket dari Armada Pasifik, Varyag, juga akan bergabung dengan angkatan laut Rusia di Mediterania pada musim gugur ini untuk menggantikan kapal anti-kapal selam besar.
Namun, Kantor Berita RIA Novosti yang dikelola negara mengutip perwakilan tingkat tinggi komando angkatan laut yang mengatakan bahwa perubahan pasukan negara di wilayah itu tidak terkait dengan ketegangan saat ini menyangkut Suriah dan menyebut mereka sedang melaksanakan "rotasi yang telah direncanakan".

Brazil menentang campur tangan militer di Suriah tanpa dukungan penuh PBB. Demikian kata Menteri Luar Negeri Brazil, Luiz Alberto Figueiredo. 

" Posisi Pemerintah Brazil sejak dulu sampai sekarang tak pernah mempertimbangkan campur tangan bersenjata, jika itu tak dilakukan dengan dukungan resolusi dari Dewan Keamanan PBB. Jika tidak, kami akan selalu mempertimbangkan itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan Piagam PBB. Kekuatan hanya boleh digunakan untuk membela diri. Ini sebagaimana ditetapkan dalam Piagam PBB atau di bawah wewenang khusus dari resolusi Dewan Keamanan PBB ".

Presiden Suriah Bashar al-Assad menegaskan kembali kesiapan militernya untuk menghadapi segala bentuk serangan Amerika Serikat dan sekutuya. Assad dalam pertemuannya dengan Alaeddin Boroujerdi, Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Majlis (parlemen) Republik Islam Iran  di Damaskus mengatakan, militer Suriah siap untuk menghadapi segala bentuk serangan dan agresi asing. Ia menegaskan, ancaman Washington tidak akan menghalangi Damaskus dari prinsip-prinsipnya dan dari tekadnya untuk memerangi terorisme yang didukung oleh sejumlah negara Barat khususnya AS.

Boroujerdi dalam pertemuan dengan Assad menegaskan dukungan berkelanjutan Tehran kepada Damaskus. Ia mengatakan, sikap Iran berasal dari pandangan-pandangan Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, dan didasarkan pada dukungan terhadap Suriah dan poros Muqawama.

Pernyataan Boroujerdi di Damaskus itu menegaskan kembali bahwa Iran menentang perang baru di kawasan. Para pejabat Tehran berulang kali menekankan, krisis Suriah hanya dapat diselesaikan melalui dialog Suriah-Suriah dan para pejabat Damaskus juga menegaskan hal itu. Meski demikian, Suriah tetap siap untuk menghadapi perang yang dikobarkan oleh Barat dan sekutunya.

Siapa Dalang-Apa Motif Serangan ?
Gelombang baru ancaman terhadap Suriah meningkat pasca serangan kimia di al-Ghouta timur, selatan Suriah. Kelompok-kelompok teroris dan pendukung mereka khususnya AS, Arab Saudi dan Turki mengklaim bahwa militer Suriah telah menggunakan senjata kimia untuk menyerang pemberontak di pinggiran Damaskus pada tanggal 21 Agustus 2013.

Pemerintah Suriah membantah klaim tersebut dan balik menuding bahwa pihak militan yang telah menggunakan senjata kimia. Dugaan bahwa militan telah menggunakan senjata kimia semakin kuat setelah ditemukannya sejumlah bukti.
Sejumlah teroris di Suriah dalam wawancara mereka dengan wartawan Associated Press pada tanggal 31 Agustus 2013 mengaku, serangan senjata kimia di al-Ghouta timur yang menewaskan banyak warga sipil, diakibatkan oleh penggunaan keliru atas sebuah bahan kimia oleh para anasir kelompok bersenjata.

Bahan kimia tersebut diperoleh dari Ketua Dinas Rahasia Arab Saudi, Pangeran Bandar bin Sultan. Menurut mereka, Saudi tidak memberikan pelatihan yang benar terkait penggunaan senjata kimia, dan rencanannya senjata-senjata kimia itu akan dikirim kepada kelompok teroris Front Al Nusra di Suriah. Sementara itu, satelit-satelit Rusia baru-baru ini juga mengambil gambar yang menunjukkan penggunaan senjata kimia oleh teroris di wilayah al-Ghouta timur.

Meskipun bukti kuat menunjukkan bahwa militan di Suriah telah menggunakan senjata kimia, namun AS, Inggris, Perancis, Saudi dan Turki menabuh genderang perang terhadap Suriah. Front Arab-Barat anti-Suriah itu menggunakan media-media mereka untuk menebarkan propaganda dan tekanan terhadap Damaskus.

Bersamaan meningkatnya ancaman, presiden Suriah dan militer negara itu menyatakan siap untuk menghadapi segala bentuk invasi asing. Militer Suriah dilaporkan memiliki struktur dan kemampuan yang kuat serta logistik yang memadai dibanding dengan militer-militer negara Arab lainnya.

Kesiapan militer Suriah untuk menghadapi ancaman Barat dan penentangan opini publik Barat terhadap perang baru di Timur Tengah menyebabkan munculnya friksi tajam di antara sekutu AS. Penolakan parlemen Inggris atas rencana pemerintah Perdana Menteri David Cameron untuk berpartisipasi dalam serangan ke Suriah dan penegasan Presiden Perancis Francois Hollande untuk memberikan kesempatan kembali atas penyelesaian krisis Suriah melalui jalan damai merupakan tanda-tanda dari friksi tersebut.

Presiden AS Barack Obama yang merasa ditinggalkan sendiri oleh sekutu Barat-nya dalam rencana invasi ke Suriah pada Sabtu malam melimpahkan keputusan aksi militer ke negara Arab itu kepada Kongres. Sikap mundur Obama tersebut menunjukkan bahwa serangan ke Suriah bukan hal yang mudah seperti yang dibayangkan sebelumnya oleh Gedung Putih.

Kesiapan militer Suriah dalam menghadapi serangan asing dianggap sebagai salah satu faktor utama yang mempengaruhi keputusan Obama, di mana kesiapan tersebut ditegaskan kembali oleh presiden Suriah dalam pertemuannya dengan Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran.



Pengacara Internasional Menentang Kepongahan Agresi Barat
Seorang pengacara internasional menilai serangan AS terhadap Suriah sebagai kejahatan perang berdasarkan Piagam PBB mengenai perang agresif.
" Setiap serangan oleh Amerika Serikat terhadap Suriah akan menjadi pelanggaran terhadap larangan Piagam PBB mengenai perang agresif, yang lebih serius (bentuknya) dari kejahatan perang. Menurut prinsip-prinsip Nuremberg, yang menetapkan pedoman untuk definisi kejahatan perang, AS memulai perang agresif terhadap bangsa lain ".

Alfred Lambremont Webre, Ahli hukum internasional ini menggambarkan keputusan Presiden AS Barack Obama mencari otorisasi Kongres atas rencana agresi militer di Suriah sebagai upaya "meraih perlindungan politik dan justifikasi hukum di belakangnya". Presiden AS Barack Obama menunda serangan militer segera terhadap Suriah pada 31 Agustus lalu untuk meminta persetujuan dari Kongres.
Sebelumnya, polling terbaru menunjukkan sekitar 80 persen warga Amerika Serikat berpendapat bahwa Barack Obama harus memperoleh dukungan dari Kongres sebelum memutuskan menyerang Suriah. Sebanyak 50 persen responden berkeyakinan bahwa AS tidak seharusnya mengintervensi Suriah, dan mereka menentang keras serangan militer ke negara itu.
Hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh televisi NBC menunjukkan 79 persen responden mendesak pemerintah Obama terlebih dahulu mengantongi restu dari Kongres AS.
Hanya 21 persen responden yang beranggapan bahwa intervensi militer ke Suriah menguntungkan kepentingan nasional Amerika Serikat.
Rencana AS melancarkan serangan militer di Suriah menyulut gelombang penentangan publik dunia yang semakin mengalir deras. Di AS sendiri, unjuk rasa anti-perang berlangsung di sejumlah kota termasuk Washington, Los Angeles, Chicago dan New York.
 
 Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Moallem bertekad akan membalas serangan militer apapun oleh dunia Barat dengan apa yang disebutnya sistem pertahanan yang “mengejutkan.” 
Suriah mendengar gendang perang. Ia mengatakan dunia Barat menggunakan dugaan penggunaan senjata kimia sebagai alasan untuk menyerang.
Ia kembali membantah pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia, dan menantang Amerika dan sekutu Eropanya untuk menunjukkan bukti.  
PBB menunda kunjungan ke sebuah pinggiran Damaskus dimana senjata kimia dilaporkan telah digunakan. Penembak gelap melepaskan tembakan ke sebuah mobil PBB yang sedang berhenti di Moadamiyeh. Tidak ada korban cedera, sementara pemerintah dan pemberontak Suriah saling menyalahkan.

Amerika mengatakan tidak ada keraguan bahwa militer Bashar al-Assad menjatuhkan senjata kimia di empat kawasan pinggiran Damaskus minggu lalu, menewaskan ratusan orang di dalam rumah-rumah mereka. Para pejabat Amerika mengatakan keputusan Presiden Barack Obama tentang respon terhadap serangan itu akan keluar dalam beberapa hari.
Liga Arab yang bertemu di Kairo menuding pemerintah Assad atas serangan itu dan menuntut agar para pelakunya diadili. 
Rusia, sekutu utama Suriah, menentang intervensi Barat di Suriah. Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Rogozin menganggap negara-negara Barat bertindak di dunia Islam itu seperti : 
 bagaikan monyet yang memegang granat.” 
wkwkwkwkwk........mister rusky ini dalem banget nyindirnya. Emang susah ngomong baek-baek sama uncle sam dan ganknya. Kita dan dunia juga menentang agresi dengan alasan apapun bentuknya. Persetan dengan " TATANAN DUNIA BARU ".
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
 

Braindonesia@blogspot.com > Berbagai sumber beritA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar