02 September 2013

MILITER INDONESIA : ARSENAL TNI, GABUNGAN ALUTSISTA USA DAN RUSIA

Helikopter tempur Apache buatan AS
Embargo militer AS atas Indonesia memberi pelajaran berharga bagi Indonesia. Karena embargo AS, pesawat-pesawat F-16 TNI AU tidak bisa terbang karena ketiadaan suku cadang. Maka, selagi ekonomi kita tumbuh dengan baik, pemerintah RI mulai membeli peralatan militer dari negara-negara lain di luar AS, yakni Rusia, Brazil, dan Jerman, di saat yang sama pula Indonesia mulai menggalakkan industri dalam negeri agar tercipta kemandirian alutsista. Salah satunya adalah untuk menghindari embargo sepihak dari negara asal produsen tersebut, yang kongres maupun pemerintahnya amat sangat licik dan bermuka dua dalam hal kebijakan luar negerinya serta selalu ingin mencampuri urusan internal negara lain. Kita bisa beli rudal berikut teknologinya dari Rusia dan China. Hasilnya,
Indonesia sudah mampu membuat roket sendiri RX 550 dan masih akan dikembangkan lagi sebagai pembawa satelit. Belanda tidak mau menjual Tank Leopard yang mereka beli dari Jerman ke kita, maka kita tanpa pikir panjang langsung mengalihkan pembelian ke Jerman sendiri, sang produsennya langsung.

Saat ini kita tak lagi ambil pusing jika negara-negara pongah tak mau menjual senjatanya dengan embel-embel HAM dan lain sebagainya. Pemerintah mulai berani. Saat Belanda, Inggris atau Jerman ingin Indonesia bersedia membeli kapal dari galangan mereka, maka mereka juga harus mau membangun sebagiannya di PT PAL, Indonesia, untuk transfer teknologi. Ketika Bank Dunia mempersulit pencairan dana bantuan  yang hanya sebesar 1,7 triliun rupiah untuk proyek JEDDI di DKI Jakarta, Gubernur DKI Jokowi dengan tegas akan membatalkan hutang itu. DKI lebih dari mampu untuk mengatasi proyek itu sendiri dengan APBD, karena sisa anggaran tahun lalu saja 10 triliun rupiah belum terpakai.
Indonesia juga menolak didikte oleh IMF yang telah mengacak-acak perekonomian RI selama ini. Indonesia langsung melunasi seluruh hutang-hutangnya ke lembaga itu, yang di zaman Bung Karno, IMF diusir keluar dari Indonesia. Sekarang IMF yang berbalik meminta-minta ke Indonesia bantuan sebesar 1 juta Dollar AS untuk mengatasi krisis di Eropa.

IGGI (sekarang CGI) dibubarkan oleh pemerintah RI, karena peran mereka yang signifikan dalam 'merusak' Indonesia dan memuluskan kepentingan para komprador. Indonesia tidak butuh mereka lagi dengan Paris Club dan segala tetek bengek-nya yang menjadi agen pembodohan arah pembangunan dengan berkedok Lembaga Konsultatif semu. Indonesia belakangan sadar, CGI tak lebih dari gerombolan penipu yang memperdaya negara lugu yang umurnya baru beberapa puluh tahun. Peran CGI sudah selesai karena Indonesia bisa mengarahkan diri  menuju kemandirian.
Lihat saja perkembangan sikap tegas itu, Freeport tak mau bangun smelter di negeri ini, maka tahun depan mereka pun tidak akan dijamin bisa ekspor keluar. Belum lagi, Indonesia masih menuntut agar Freeport melakukan divestasi saham sebesar minimal 51% ke pemerintah pusat dan ke Pemda.
Bagi AS sendiri, Indonesia sebenarnya bukanlah sekutu utama dalam arti kesamaan ideologi maupun pakta pertahanan di tubuh organisasi yang sama seperti NATO, ANZUS, maupun pakta pertahanan bilateral seperti AS-Jepang, AS-Philipina. Bahkan Indonesia tak lebih dari negara besar yang mereka lupakan dalam hal pengaruh dan perannya di tingkat dunia. Hubungan Indonesia-AS selama ini tak lebih dari basa-basi belaka. Hubungan yang tidak seimbang, di mana negara uncle sam ini banyak memaksakan kehendaknya terhadap negara kita dan lainnya.

AS Mencari Perhatian Elite Indonesia
Setelah gagal dalam usahanya menjadi pengendali tunggal terhadap Selat Malaka, Amerika sepertinya harus mengubah kebijakannya terhadap Indonesia dengan secara aktif mendorong Indonesia sebagai sekutu terdepan di Asia Tenggara. Itulah sebabnya negara Paman Sam ini berusaha menjalin kerjasama dalam bidang militer-strategis.
Tujuannya tentu untuk memperoleh akses bebas terhadap sumberdaya alam Indonesia dengan membangun pangkalan militer di wilayah NKRI, guna mengontrol selat Malaka sekaligus bisa mengendalikan dua negara Asia Tenggara lainnya, yaitu Malaysia dan Thailand. Dan kalau taktis ini berjalan lancar, praktis kedua negara ASEAN tersebut bisa diawasi oleh Amerika melalui wilayah Indonesia.
Sisi strategis Indonesia di mata Gedung Putih ada dua. Pertama, karena lokasi geostrategis Indonesia yang kaya akan sumberdaya alam. Tapi yang jauh lebih penting, karena kewibawaan dan pengaruhnya yang besar di kalangan negara-negara ASEAN. Sehingga Amerika berusaha memanfaatkan kemampuan Indonesia di negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam(OKI), agar bisa memberikan dampak atas penyelesaian berbagai masalah krusial seperti situasi di Afghanistan, Irak, program nuklir Iran, dan situasi krisis di Timur Tengah pada umumnya. Washington mendorong pemerintahan SBY agar meningkatkan intesiifikasi hubungan bilateral, melalui latihan militer bersama, termasuk di wilayah Selat Malaka. Bahkan lebih daripada itu, Amerika juga melakukan pelatihan para kader militer Indonesia di Amerika Serikat, selain pelatihan bagi para staf muda birokrasi dari berbagai kementerian dan media massa besar berskala nasional maupun daerah. Bantuan Amerika di bidang kemiliteran semakin meningkat di era Presiden Bush. Baru-baru ini Indonesia menjajagi kemungkinan mendapatkan tank-tank ampibi dari Amerika. Amerika kabarnya sudah setuju, hanya saja Amerika meminta kejelasan apa imbalan dan keuntungan yang bisa diraih dari pengadaan bantuan perlatan militer tersebut.
Alutsista Baru TNI Datang Dari AS Dan NATO
Tentara Nasional Indonesia (TNI) terus memperkuat persenjataannya. TNI berharap secara bertahap, kebutuhan minimal akan sistem persenjataan bisa tercapai tahun 2019.

Sederat Alutsista Baru TNI

Sejumlah senjata paling mutahir untuk matra darat, laut dan udara telah tiba untuk memperkuat TNI. Lembaga analisa militer Global Firepower menaikkan rangking militer Indonesia dari urutan 18 menjadi urutan 15 sejak Juni 2013 lalu.


Tak cuma membeli ke luar negeri. Pemerintah NKRI juga mewajibkan industri pertahanan dalam negeri bangkit dan berkembang. Kelak Indonesia diharakan bisa memproduksi tank baja, kapal selam hingga jet tempur. Tahun ini pemerintah menggelontorkan dana Rp 25 triliun. Hingga Rp 2014, Rp 150 triliun dianggarkan untuk alutsista dan pembangunan industri pertahanan.

Lihat saja beberapa alutsista yang terdaftar secara terbuka dan bakal mengisi arsenal TNI, diantaranya ada merk barat (NATO), AS dan beberapa negara lainnya diluar blok mereka.

Akuisisi Heli Serang Apache AH-64
Kementerian Pertahanan RI telah menandatangani kesepakatan pembelian delapan helikopter serang jenis Apache AH-64 dari Amerika Serikat. Hal itu terungkap dalam kunjungan Menteri Pertahanan AS, Chuck Hagel, yang bertandang ke Indonesia hari ini, Senin 26 Agustus 2013. Hagel tiba di tanah air hari ini usai menyambangi Malaysia. Dalam keterangan pers di Gedung Kementerian Pertahanan, Menhan Poernomo Yusgiantoro, mengatakan akan membentuk satu skuadron helikopter Apache bagi TNI Angkatan Darat. Menhan memutuskan membeli helikopter tersebut dalam rangka memodernisasi alutsista TNI yang sudah usang. Hampir 20 tahun lebih, kata Poernomo, Indonesia belum membeli peralatan militer baru.

"Kami membelinya sebagai bagian dari upaya modernisasi peralatan perang militer Indonesia. Kami akui bahwa kualitas militer Indonesia masih rendah, oleh sebab itu akan terus diperbaiki ".

Mengapa baru membeli Helikopter Serang Apache AH-64 saat ini, menhan beralasan karena ketiadaan biaya saat krisis ekonomi masih menghantam Indonesia. Sehingga pemerintah memfokuskan pada pemulihan ekonomi ketimbang modernisasi peralatan militer. Dia pun membantah anggapan yang menyebut upaya Kemhan memperbarui peralatan militer karena ingin bersaing dengan negara lain yang kini tengah gencar melakukan hal serupa seperti Filipina dan China. Poernomo menyebut memperbarui alutsista tidak hanya untuk kepentingan perang semata, namun dapat ditujukan bagi upaya penanggulangan bencana.

Informasi yang diperoleh dari Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, Indonesia akan membeli delapan helikopter itu senilai US$600 juta atau Rp6,4 triliun. Diharapkan pada Oktober 2014 nanti sudah mulai tiba di Indonesia secara bertahap.
"Helikopter itu lengkap dengan persenjataan dan spare part-nya ".
Helikopter AH-64 Apache merupakan kendaraan tempur yang dapat digunakan di semua keadaan cuaca. Alutsista itu dikendalikan oleh dua awak dan persenjataan utamanya adalah sebuah meriam rantai M230 30 mm yang terletak di bawah. Helikopter milik AD AS ini pernah digunakan dalam operasi-operasi invasi Negeri Paman Sam ke Panama tahun 1989 silam, perang teluk, Afganistan dan Iraq.


1. TNI AD
TNI AD diperkuat sejumlah senjata canggih. Di antaranya 61 unit Tank Leopard Ri, 42 unit Tank Leopard 2A4, dan 50 tank Marder. Tank produksi Pabrik Rheinmettal, Jerman ini tiba secara berangsur mulai Oktober 2013. Tank kelas berat tersebut akan ditempatkan di perbatasan Indonesia dan Malaysia.
Untuk artileri, TNI Angkatan Darat membeli MLS Astros II dari Brasil. MLS Astros II merupakan mobil tempur yang mampu meluncurkan 2 roket, 4 roket dan 16 roket. Jika dalam posisi laras peluncuran 2 roket, jangkauan yang dicapai hingga 300 km. Astros II akan dioperasikan Yonarmed I/105 Tarik Ajusta Yudha, Singosari, Malang, Jawa Timur.
TNI AD juga menambah daya gempur lewat udara dengan sejumlah helikopter serang. Kini Dinas Penerbang TNI AD mengandalkan 3 buah Mi-35 Hind E produksi Rusia, maka kini TNI AD telah membeli 8 unit Apache tipe AH-64E seharga USD 500 juta dari AS. Helikopter serang canggih ini akan ditempatkan di Laut China Selatan. Sejumlah panser dan persenjataan lain juga akan memperkuat TNI AD.


2. TNI AL 
Di matra laut, TNI AL juga ingin menunjukkan taringnya sebagai penjaga samudera. TNI telah memesan tiga kapal selam dari Korea Selatan. Kapal itu diharap sudah bisa memperkuat Indonesia mulai tahun 2015. Saat ini wilayah laut Indonesia yang begitu luas hanya dijaga dua kapal selam.
TNI AL juga akan membeli 11 helikopter antikapal selam dan menghidupkan kembali skadron antikapal selam. Indonesia pernah memiliki skadron ini tahun 1960an, tapi kemudian dihapus. Helikopter ini diharapkan sudah datang tahun 2014 dan dipusatkan di Surabaya.
TNI AL berencana memesan 35 kapal cepat rudal (KCR) untuk mewujudkan kebutuhan minimum. Dua KCR, yakni KRI Celurit-641, dan KRI Kujang-642 telah memperkuat armada barat.

Selain itu TNI AL ingin membeli tiga kapal frigat buatan Inggris. Kapal ini awalnya dipesan Brunei Darussalam, tetapi kemudian tidak jadi karena butuh personel banyak untuk mengawakinya.

Untuk marinir, 17 Tank Amfibi BMP-3F dari Rusia telah datang sejak 2012. Idealnya korps baret ungu ini memiliki 95 tank BMP-3F.


3. TNI AU 
Kedatangan dua Sukhoi SU-30 MK2 pada Februari 2013 lalu memperkuat kekuatan elang udara RI. Secara bertahap, diharapkan TNI AU bisa memiliki 16 jet Sukhoi. 16 Jet tempur ringan T-50 Golden Eagle dari Korea Selatan juga akan memperkuat TNI AU. Satu skadron ini direncanakan untuk menggantikan pesawat Hawk yang akan segera dipensiunkan.
Selain itu hibah 24 pesawat F-16 D Blok 52 hibah dari Amerika Serikat diharapkan sudah datang pertengahan tahun 2014.
Pesawat serang darat A29A Super Tucano dari Brazil juga sudah bertahap tiba di Indonesia. Pesawat dengan kualifikasi antigerilya dan serangan darat ini menggantikan OV-10 Bronco yang sudah dibebastugaskan.
Untuk pesawat angkut, TNI AU dapat tambahan CN-295. Selain itu 6 unit C-130 H Hercules ditambah hibah Australia sebanyak 4 unit untuk pesawat yang sama.

Pesawat lain yang direncanakan akan hadir di antaranya Helikopter Cougar, Grob, dan pesawat latih KT-1.
Sejarah mencatat dari study dokumen Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago :
Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan ‘the Berkeley Mafia’, karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. 
" Saat itu ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor dan itu semua dilakukan dengan cara yang spektakuler"
Mereka membaginya ke dalam lima seksi : pertambangan, jasa, industri ringan, perbankan dan keuangan yang dilakukan oleh Chase Manhattan kemudian duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya dan mereka pada dasarnya merancang infra struktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Kondisi di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri......TERLALU !!



Rusia -Indonesia Membuka Kran  ASEAN
Rusia bertekad semakin aktif menjalin kerjasama dengan Indonesia di bidang pertahanan. Kerjasama ini tidak sebatas jual-beli alat-alat utama sistem pertahanan (alutsista), namun juga latihan militer bersama dan rencana membuat proyek patungan industri alutsista. Saat masih berbentuk Uni Soviet (USSR), Rusia menjual persenjataannya ke Indonesia tidak lama setelah kedua negara membuka hubungan diplomatik pada 1950. Di tahun-tahun awal, banyak pula personel angkatan laut dan udara Indonesia dikirim ke Uni Soviet untuk menempuh pendidikan.
Hubungan itu sempat terganggu di pertengahan dekade 1960an karena alasan-alasan politis. Kedua negara kembali melanjutkan hubungan di awal dekade 1990an, namun demikian telah memulainya dengan kerjasama yang saling menguntungkan secara signifikan. tengok saja pembicaraan soal jual-beli jet tempur Rusia Sukhoi-30 ke Indonesia sudah berlangsung sejak 1997 meski baru disepakati pada 2003.

Eratnya kembali kerjasama pertahanan Rusia-Indonesia banyak terbantu berkat rengganggnya hubungan serupa antara Indonesia dengan Amerika Serikat di akhir dekade 1990an. Kerenggangan itu muncul setelah Washington menjatuhkan embargo penjualan senjata ke Jakarta karena menilai Indonesia saat itu melanggar Hak Asasi Manusia di Timor Timur, yang kini bernama Timor Leste sejak menjadi negara berdaulat pada 2002. Embargo senjata AS ke RI itu, berikut suku cadang, berlangsung selama 1999-2005. AS mengakhiri embargo ketika Presidennya saat itu, George W Bush, menganggap Indonesia termasuk mitra penting memerangi terorisme dan perlu mencabut embargo, AS pun terlihat aktif menawarkan mesin-mesin perangnya kepada Indonesia. Pada 2011, AS sepakat mengirim 24 unit jet tempur bekas tipe F-16 seri C/D blok 25 kepada Indonesia secara cuma-cuma, kecuali untuk biaya pemutakhiran (upgrade).
Pada akhir 2012, AS dan Indonesia berunding untuk jual-beli helikopter serbaguna UH-60 Black Hawk dan helikopter tempur AH-60D buatan Boeing. Namun, belajar dari embargo AS itu, Indonesia membuka pintu kerjasama seluas-luasnya kepada negara lain, termasuk Rusia, agar tidak lagi bergantung kepada satu pihak dalam pengadaan alutsista. Maka, sejak itu, Indonesia tidak hanya kembali berbisnis senjata dengan AS, namun juga mempererat kerjasama serupa dengan Rusia.

Maka, Indonesia dan Rusia bersepakat soal jual beli jet tempur dan mesin-mesin perang lain. Sejak 2003, Rusia telah mengirim 12 unit jet tempur Sukhoi ke Indonesia dan pengiriman empat unit lagi masih menunggu persetujuan lebih lanjut. Moskow pun telah menjual sejumlah helikopter militer Mi-35 dan Mi-17 kepada Jakarta. Alutsista lain yang dijual Rusia ke Indonesia adalah kendaraan tempur lapis baja BMP-3F, kendaraan pengangkut personel BTR-80A, serta senapan serbu AK-102.

Untuk membeli persenjataan itu, Moskow pada 2007 memberi fasilitas kredit sebesar US$1 miliar kepada Jakarta. Kerjasama pertahanan di luar jual-beli persenjataan juga telah berlangsung, seperti menggelar latihan bersama memerangi perompak di laut antara pasukan Indonesia dengan Rusia pada 2011.

Kerjasama kedua negara juga mencakup kemitraan Rusia dengan ASEAN. Pada Juli 2004, Rusia dan ASEAN menyapakati deklarasi memerangi bersama terorisme.

ASEAN dan Rusia pun menggelar pertemuan tahunan dan kelompok-kelompok diskusi di bidang keamanan maritim, bantuan kemanusiaan, pengobatan militer, operasi penjaga perdamaian , dan pemberantasan ranjau darat. Baru-baru ini Rusia menawarkan bantuan ke Indonesia membangun sistem pertahanan udara. Saat ini, Indonesia hanya memiliki rudal-rudal pertahanan SAM (surface-to-air missile) jarak dekat.
Viktor Komardin dari perusahaan ekspor senjata-senjata Rusia (Rosoboronexport) mengungkapkan bahwa Moskow akan menjual perangkat sistem SAM sekaligus membantu mempersiapkan jaringan pertahanan udara. Hal yang sangat krusial untuk segera disetujui untuk pengadaannya.

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Edy Prasetyono, menilai kerjasama pertahanan RI-Rusia masih belum maksimal, tidak saja dalam jual-beli alustsita, namun juga di bidang lain seperti pelatihan, dan pendidikan militer.

"Indonesia kini punya undang-undang industri pertahanan yang menyatakan bahwa pembangunan industri pertahanan bisa berlangsung melalui kerjasama internasional. Maka, ada ruang bagi Rusia untuk bekerjasama dengan Indonesia, terutama dalam beberapa platform senjata tertentu. Kedua negara perlu bernegosiasi soal ini ".



Indonesia Mendapat Tawaran Sepuluh Kapal Selam dari Rusia

Indonesia Mendapat Tawaran Sepuluh Kapal Selam dari Rusia

Rusia menawarkan sepuluh unit kapal selam kepada Indonesia. Meski demikian, tidak bisa serta-merta diterima sebab pemerintah masih harus mengeluarka biaya perawatan. Selain itu pemerintah masih mempertimbangkan masa pakai alat utama sistem senjata (alutsista) tersebut.

" Memang ada tawaran lagi 10 kapal selam dari Rusia, Tentu kita pertimbangkan karena nanti juga ada biaya perawatan, biaya pemeliharaan, perbaikan dan lain sebagainya itu kita hitung dulu jangan buru-buru " .

Dia mengatakan, kapal selam yang ditawarkan Rusia merupakan kapal selam bekas. Penawaran 10 unit tersebut atas dasar kedekatan kedua negara. Beberapa sumber mencoba mencitrakan kesenyapan atas klausul ini sebagai bagian dari kerahasiaan militer tingkat tinggi. Sehingga tak ada publikasi berlebihan demi keseimbangan kawasan.
Bahkan secara bersamaan Indonesia juga sudah memesan kapal selam yang dibangun di Korea Selatan. Diharapkan, kapal pembangunan selam tersebut selesai pada tahun depan. Saat ini pemerintah sedang melakukan survei untuk meletakkan kapal-kapal selam tersebut selain di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Tidak semua jenis kapal selam ideal bagi perairan Indonesia. Kapal selam yang ideal antara lain berukuran tidak terlalu besar seperti kelas Los Angeles dari US Navy, atau terlalu kecil seperti kelas Vastergotland dari Swedia.


Berarti, yang tepat kelas menengah seperti kelas Type-209/1300, kelas Kilo, kelas Agosta, atau kelas Upholder.
Combat system-nya minimal harus setara dengan kapal selam yang dimiliki oleh negara tetangga, atau sedapat mungkin lebih canggih. Dilengkapi dengan persenjataan yang modern dengan daya hancur tinggi. Belakangan ini yang cukup santer dikaji oleh Indonesia adalah Kapal selam kelas Kilo yang sudah dimodifikasi, buatan Rusia (Project 636), kelas Type-209 (Changbogo) dari Korea Selatan, Type-209 Jerman, dan kelas Scorpene dari Perancis.


Sarana Pendukung 
Kehadiran kapal selam tentunya memerlukan sarana pendukung yang memadai. Terutama sarana pangkalan, karena ciri yang khusus dari kapal selam dan berbeda dengan kapal permukaan. Kapal selam sebaiknya memiliki pangkalan yang khusus dengan rancang bangun yang berbeda dengan pangkalan kapal permukaan. Tentunya hal ini akan memerlukan alokasi anggaran yang tidak sedikit. Lihat saja pembuatan galangan kapal selam di Surabaya dan pangkalan kapal selam di teluk palu yang tentu telah menghabiskan dana luar biasa. Namun demi garansi tegaknya NKRI hal itu adalah sesuatu yang pantas bagi Indonesia. Tak ada dalih dan alasan bagi siapapun untuk menundanya.

Catatan kekuatan kapal selam yang berada di sekitar Indonesia antara lain:


MALAYSIA
Scorpene – DCNS Perancis

Scorpene memiliki keunggulan antara lain; teknologi yang sudah mutakhir, didukung dengan persenjataan yang memadai seperti rudal Sm-38 Exocet (enam peluncur rudal), 21 tabung torpedo untuk meluncurkan torpedo jenis “Black Shark” (Advanced Heavyweight Torpedo) jenis SUT/Surface and Underwater Torpedo. Persenjataan dikendalikan dengan Advanced Combat System (ACS). ACS memungkinkan kendali persenjataan bekerja bersama dengan rangkaian perangkat sensor secara simultan, hal ini berpengaruh terhadap penanganan persenjataan lebih cepat, senyap dan fleksibel. Dengan sistem ini setiap tabung peluncur dapat meluncurkan rudal dengan aman dan senyap di kedalaman laut. Didukung dengan SUBTICS (Submarine Tactical Integrated Combat System).

SINGAPURA
Aangkatan Laut Singapura antara lain memiliki kapal selam jenis kelas Challanger (refit eks-kelas Sjöormen Swedia). Dan, kelas Archer (aslinya dari kelas Västergötland, dan akan direfit menjadi kelas standar Södermanland dari Swedia).

AUSTRALIA
Memiliki enam unit kapal selam kelas Collins type 471 yang khusus dirancang oleh galangan Swedia Kockums untuk Angkatan Laut Australia. Empat unit diantaranya sudah di upgrade dan selesai pada Maret 2003. Antara lain dengan penyempurnaan pada combat system. Collin class memiliki kapasitas persenjataan hingga 22 rudal jenis Harpoon dan torpedo 533mm.

RRC
Memiliki puluhan jenis kapal selam dari kelas Golf, Romeo (Wuhan), Kilo, Song, Han, Xia, Shang, sampai kelas Jin.

TAIWAN
Taiwan memiliki dua kelas kapal selam yaitu kapal selam latih kelas Hai Shih (Tench atau GUPPY II), dan kelas Hai Lung (Zwaardvis).


INDIA
India memiliki kapal selam kelas Foxtrot, Shishumar (Type 209), Sndhughosh (Kilo), Scorpene, dan Akula. Saat ini India sedang membangun kapal selam modern (Nuclear Powered Ballistic Missile Submarine) yang diharapkan selesai pada tahun 2010.


JEPANG
Jepang memiliki armada kapal selam kelas Ko-hyoteki (midget), KD1 sampai KD7, J1, J2, J3, C1, C2, C3, A1, A2, A modifikasi, B1 (seri I-15), B2, B3, Sen Toku (aka I-400), Kaichu, Kaisho, Sen Taka’ (aka I-200), KRS, D1, D2, Sen Ho, Sen Ho Sho, dan LA.
Untuk Pasukan Bela Diri Maritim memiliki kapal selam kelas Gato, Hayashio, Natshushio, Oshio, Uzushio, Yushio, Harushio, Asashio, Oyashio, dan kelas Sōryū class.


KOREA SELATAN
Korea Selatan memiliki kapal selam kelas Chang Bogo (Type 209), dan kelas Son Won-il class (Type 214).


KOREA UTARA
Korea Utara memiliki kapal selam kelas Romeo, Sang-O, dan Yugo (midget submarine).


PAKISTAN
Kapal selam Pakistan diantaranya; kelas Hashmat (Agosta 70), Khalid (Agosta 90B class submarine), dan 3MG110 class (midget submarine).


TNI AL
TNI AL memiliki dua nama di dua unit kapal selam kelas Type-209/1300 buatan HDW Jerman. (dan jenis yang masih menjadi kemisteriusan abadi para mayan mengingat korps ini terkenal disiplin menjaga rahasia dan kesenyapan alutsistanya).



Rusia Tawarkan Rudal S 300
Mungkin kita sudah mendengar beberapa waktu lalu tentang bagaimana F-18 US-navy dengan seenaknya melintasi wilayah udara Indonesia. Begitu pula dengan pesawat negara lain, seperti Australia dan Malaysia. Bahkan 2 jet tempur F-16 RI yang datang menghalau, justru di-”lock” oleh F-18 US di perairan Bawean dan disuruh menjauh. Kita yang berkuasa malah diusir hehehe uncle satu ini memang pongah. Polisi dunia yang semena-mena karena merasa diatas segalanya, yah barangkali mereka telah terbiasa dengan stigma " KUASA".
TNI-AU telah menjalankan tugasnya dengan mengirim F-16 dan mengidentifikasi pesawat asing yang dianggap menerobos.
Bagaimana kondisi Arhanud saat itu ?
Tentu Arhanud TNI tidak bisa berbuat apa-apa karena sistem pertahanan mereka tidak bisa menjangkau F-18 US. Padahal tugas Arhanud adalah pertahanan udara medan operasi serta pertahanan udara nasional. Dari kasus tersebut, terlihat jelas ada “ CELAH LEMAH ” dalam sistem pertahanan udara Indonesia. Dan ini menimbulkan gelombang reaksi yang tak terduga, nasionalisme. Para elite yang biasanya sibuk kolusi, konspirasi politik dan korupsi, terketuk nyalinya untuk sedikit berbagi ilustrasi tentang apa yang dibutuhkan negeri ini. Indonesia tidak boleh menjadi korban berikutnya dari angkaranya adikuasa. Indonesia harus bangkit, TNI harus bergigi dan diperkuat kembali. Dunia sudah mencatat, Irak, Libya, Afghanistan dan beberapa negara telah kehilangan garansi kemerdekaannya. Kejadian penyusupan oleh pespur amerika dan beberapa negara lain yang main nyelonong saja di teritori NKRI membuat kewibawaan Indonesia berkurang, khususnya terhadap negara-negara tetangga. Mereka mengetahui Arhanud Indonesia hanya bisa bertahan total sambil menunggu diserang. Itu baru ancaman penyusupan (intruder). Bagaimana pula dengan peran Arhanud untuk melindungi gerakan satuan lain seperti, Batalyon Tank Leopard 2A6,Heli Serbu MI-35, MLRS, Skuadron UAV dan lain sebagainya.
Teknologi senjata pesawat telah berkembang dengan pesat. Musuh tidak perlu lagi menghampiri sasaran untuk melakukan penghancuran. Apakah kondisi ini harus dihadapi satuan darat Indonesia, dengan mencoba melindungi diri sendiri mengandalkan rudal panggul jarak pendek.  
Tentu saat kejadian itu para jenderal akan lebih memilih untuk berharakiri jika masih memiliki sedikit rasa malu. Melepas kenyataan pahit itu tentu tak mudah, namun perubahan pola dan strategi adalah keharusan demi membayar rasa malu terhadap 200 juta rakyat Indonesia yang telah menyokong negara ini melalui kekuatan TNI yang digdaya semestinya. 
Tapi kemana itu semua ?? Nyawa rakyat dipertaruhkan seolah tiada berharga. Hal inilah yang memicu kegusaran dan membangkitkan seluruh elemen negeri untuk melecut diri menjadi sebuah kekuatan yang setara. Kita baru sadar kekayaan alam Indonesia telah melenakan, perdamaian yang kita tawarkan justru dianggap celah untuk menikam dari belakang. Singkat cerita, inilah negeri kaya tanpa penjaga yang digdaya saat itu. Tetangga serumpunpun berani berak dan meludah ditanah air kita, dan kita hanya mengelus dada menyaksikan ulah itu dengan segala kemampuan yang terbilang seadanya. Bambu runcing kita tak cukup lagi jika harus digunakan untuk mengusir Typhoon,hornet, atau stealth. Toh kita sendiri telah rakus menebangi bambu-bambu bersejarah itu demi sekedar nama ekspor komoditi. Lalu apalagi ?? Tamparan telak beruntun saat itu terjadi , syukurlah kita menyadari dan ingin bangkit kembali. Ya, semua pasti ada hikmahnya.  Meski pahit, semoga menjadi manis pada akhirnya. Minimal kita telah merasakan geliatnya saat ini, geliat garuda demi macan asia.

Arhanud Modernisasi Alutsista
Diskusi dan pengkajian mendalam tentang pertahanan udara nasional telah dilakukan secara intensif. Arhanud juga telah mengusulkan dilengkapinya peralatan mereka dengan rudal anti-udara jarak menengah. LAPAN digenjot untuk membuat rudal dan meningkatkan kemampuan Roketnya. Beberapa tahun terakhir, Indonesia terus membeli peralatan tempur yang canggih dan tentunya mahal, seperti : Jet tempur Sukhoi, Helicopter Serbu MI-35, Korvet Sigma, Meriam 155mm Caesar, UAV Heron, Tank tempur Utama Leopard 2A6, dan sebagainya. Tentu hal yang janggal jika tak dilengkapi dengan radar dan arteleri pertahanan udara yang memadai sebagai perisai serangan diseluruh negeri plus kemampuan PT DI, Lapan, Len, Pal dan Pindad nanti dalam bersinergi mengisi arsenal TNI dari sifat bertahan menjadi penggentar.
Armada perang yang canggih dan mahal itu membutuhkan “Payung”, agar bisa berfungsi dengan maksimal. Penginderaan dan pengadaan rudal jarak menengah tampaknya harus menjadi keniscayaan bagi modernisasi alutsista TNI dan rudal jarak menengah telah masuk ke dalam daftar belanja alut sista TNI sejak tahun 2011. Pilihan itu tentu akan disesuaikan dengan kondisi geografis dan kemampuan finansial TNI. Apapun yang nampak sekarang tentu hanyalah sebagian yang bisa terekspose pada publik. Selebihnya kita tak akan pernah tahu strategi penyamaran alutsista yang lazim dilakukan oleh militer manapun didunia ini. Selalu ada senjata rahasia, sekelas kilo ataupun rudal-rudal superior sekelas S 300 dan alutsista gahar lainnya. Kita tahu, Vladimir Putin siap memberi tambahan Kredit State sebesar US$ 1milyar lagi untuk pengadaan alutsista Indonesia apalagi jika dikaitkan dengan rencana membangun sistem jaringan rudal penangkis serangan udara di sejumlah titik strategis di Indonesia. Tentu semua akan menyambut gembira, kita benar-benar haus gizi alutsista. Bukan demi menginvasi negara manapun tapi kita hanya ingin setara dengan mereka dalam menegakkan dan menjaga kedaulatan bangsa. Spirit beralutsista dalam bingkai semangat kebangsaan perlu selalu didengungkan untuk memberikan kebanggaan dalam berbangsa dan bernegara. Dalam kondisi kita yang sedang membangun kekuatan militer sesuai renstra MEF, negara tetangga sudah banyak yang berbaik hati dan menyapa dengan tata krama. Australia berupaya mengambil hati dengan menunjukkan cara pandang yang berbeda seperti yang ditunjukkan dalam Pitch Black 2012. Malaysia sudah mulai tahu diri dan bersopan sikap. Singapura meskipun tak menampakkan mimik kekhawatiran tapi sesungguhya mereka mulai berhitung ulang dalam strategi pertahanan sarang lebahnya. Belum lagi puluhan negara yang punya industri alutsista berkunjung ke Jakarta untuk menjual senyum mengambil hati dan mengharap dapat order pengadaan alutsista.

Apapun itu, tawaran yang menggiurkan itu selayaknya patut kita apresiasi dan didukung realisasinya karena kita memang butuh alutsista modern seperti,  radar, rudal superior, pesawat tempur, ranpur, kapal permukaan dan kapal selam lebih banyak untuk mengawal  teritori NKRI. Tentu dengan catatan lebih selektif melihat barangnya, harga, kepantasan teknologinya, ongkos retrofitnya termasuk biaya pemeliharaan dan ketersediaan SDM (personal militer) yang mumpuni. Dan tak kalah pentingnya, industri alutsista dalam negeri tak perlu diragukan lagi kehandalannya. Mereka mampu kita pasti bisa !
JAYALAH INDONESIA...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar